Selasa, 09 Juni 2020

Peranan Mahasiswa Pendidikan menjadi motivator bagi pemuda,masyarakat dalam meningkatkan sikap moral dan kejujuran pemuda menuju mahasiswa yang unggul dan berdaya saing.


Peranan Mahasiswa Pendidikan menjadi motivator bagi pemuda,masyarakat dalam meningkatkan sikap moral dan kejujuran pemuda menuju mahasiswa yang unggul dan berdaya saing.


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN PEMATANG SIANTAR
PEMATANGSIANTAR

2020


BAB 1
Latar Belakang
Kita dilahirkan di dunia ini dengan potensi yang besar untuk menjadi seorang pemenang dalam hidup. Sejak lahir kita dibekali dengan perlengkapan hidup yang sangat hebat yaitu pikiran,kehendak bebas,dan hati nurani.Tiga modal tersebut  yang harus kita gunakan kita lakukan dengan benar dan perlu kita kembangkan. Diluar itu kita perlu memahami bahwa devenisi Pemenang adalah “Tenang ketika mengalami kegagalan dan tidak panik ketika mengalami kekalahan.Pemenang dalam hidup adalah pribadi yang berani mengalami kehidupan tidak gentar dalam menghadapi kesulitan, tidak bergantung pada situasi dan tidak dikalahkan oleh hal-hal yang negatif .
Memiliki ambisi sebagai pemenang bukan berarti kita harus menajdi pribadi yang sombong, justru sikap sombong lah yang akan membuat kita kalah. Sebaliknya kita juga tidak boleh berkecil hati seandai nya saat ini kita tidak sehebat dan segemilang orang-orang. Untuk menjadi pemenang kita harus berani keluar dari zaona nyaman,artinya kita harus berani mengambil resiko, karena semua hal berharga dalam hidup ini harus kita raih dengan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.Kita harus melakukan semua hal yang dapat meningkat kan kualitas hidup kita. Selalu berfikir positif juga menjadi suatu hal yg dapat mendorong kita untuk menjadi pemenang. Pikiran memiliki potensi dan kekuatan yang bisa membangun atau merusak hidup anda ,semua tergantung bagaimana anda mengarahkannya. Untuk itu arahkanlah selalu pikiran anda untuk memikirkan hal-hal yang mulia, yang benar, yang adil penting dan membahagiakan. Jangan biarkan diri anda lemah sehingga anda selalu mengalami kekalahan, berusahala untuk mengembangkan sifat-sifat pemenang rendah hati, berani, berjiwa besar, dan hindari sifat pengecut menyalahkan orang lain, egois, iri hati, sombong,
pemarah, suka menunda. Dengan  berkomitmen akan hal-hal diatas besar kemungkinan kita akan benar benar menjadi pemenang.
RUMUSAN MASALAH
1. Kurangnya pemikiran positif pada masyarakat atau pemuda, yang membuat pemuda atau masyarakat justru menjadi pecundang. Ada perbedaan mencolok antara orang yang bermental pemenang dan orang yang bermental pecundang. Yang menjadi masalahnya adalah sebagian orang-orang membedakannya hanya dari bakat, kemampuan fisik atau kemampuan intelektual, tapi sebenarnya yang membedakannya adalah mindset atau pemikiran mereka. Bukan semata-mata hanya dari fisik atau kecerdasan saja.
2. Tidak mempunyai keyakinan yang kuat pada diri mereka, salah atribut pemenang adalah percaya kepada diri mereka sendiri/kita. Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita adalah yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan. Jadi, percaya bahwa kita bisa meraih apapun selama kita mau berusaha untuk menggapainya. Untuk itu kita harus meyakini bahwa memiliki kepercayaan diri mampu mendorong kita menjadi pemenang. Tidak mempunyai keyakinan yang kuat, mental pemenang dalam dirimu tidak akan pernah muncul.
3. Tidak memiliki hasrat
4. Tidak memiliki mental yang kokoh
5. Kurang menguasai pemikiran diri sendiri.
Ini kerap terjadi pada orang-orang karena terpaku pada kegagalan masalalu. Kita sering memikirkan hal-hal yang memberatkan kita untuk jadi pemenang, padahal yang seharusnya kita pahami adalah seorang pemenang tidak akan menginjinkan pembatasan kemampuan diri atau perkataan yang mematahkan semangat menguasai pikiran mereka.
6.Lebih sering menyerah,Kadang satu masalah atau satu kegagalan saja dapat merenggut harapan dan impian seseorang dikarenakan tidak memiliki semangat yang pantang menyerah. Bukan nya semangat eh, malah menyerah.
7. Kurangnya pemikiran untuk membentuk tim pendukung, selalu merasa sendiri adalah hal yangharus kita hindari untuk boleh menjadi pemenang. Tidak peduli apapun pososi kita. Kita memerlukan bantuan dari oranglain yang dapat memberi sudut pandang yang lebih luas dan pengalaman yang membantu untuk sukses.
8. Tidak bergaul dengan orang-orang hebat.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang menghambat seseorang untuk menjadi seorang pemenang.
2. Untuk memberikan dorongan atau suport kepada banyak orang guna untuk menjadikan seseorang atau masyarakat pemenang.
3. Untuk mengetahui penting nya pikiran-pikiran positif dalam menjadikan diri kita menjadi pemenang.
4. Untuk membentuk pribadi yang optimis bukan pesimis.
5. Untuk menyampaikan bahwa menjadi pemenang tidak semudah membalikkan telapak tangan.
6. Untuk membagikan tips-tips menjadi pemenang yang sebenarnya.
7. Untuk mengajak orang-orang memahami cara pemenang.
8. Mengingatkan bahwa untuk menjadi pemenang kita harus bergaul juga dengan orang-orang
Yang mempunyai prinsip hidup untuk menjadi pemenang.
9.Mengetahui permasalahanpendidikan moral&kejujuran dalam masyarakat dan pemuda.
10.Mengetahui pengertian permasalahan pendidikan moral dan kejujuran dalam masyarakat/pemuda
11.Mengetahui faktor yang memengaruhi permasalahan pendidkikan moral dan kejujuran dalam meraih kemenangan
12.Meberikan solusi atau pencerahan terhadap permasalahan pendidikan moral dan kejujuran untuk menjadi seorang pemenang
13.Supaya pemuda atau masyarakat mengetahui moral apa yang baik .
14.Memberikan gambaran permasalahan pendidikan kejujuran dan moral serta memberikan jalan keluar .
15.Menambah wawasan tentang bagaimana upaya untuk membentuk panitia yg tangguh
16.Meningkatkan kesadaran kita bahwa pemuda memiliki peran dan tanggung jawab besar terhadap lingkungan
17.Meningkatkan kesadaran para pemuda untuk mengelola lingkungan dengan baik dan memiliki kemampuan keterampilan serta moral yang baik
D. MANFAAT PENELITIAN
1.  Sebagai batu loncatan kepada pendidikan moral dan kejujuran yang lebih baik.
2. Menambah wawasan serta pengetahuan pembaca tentang keadaan pendidikan dan kejujuran        masyarakat atau pemuda saat ini untuk menjadi pemenang.
3.Sebagai bentuk apresiasi mahasiswa terhadap masalah pendidikan yang telah semakin bermoral buruk dan banyaknya kekurangan
4. Untuk mengajak kalangan pemuda dan kalangan masyarakat bagaimana bermoral  baik dan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari
5. Bermanfaat untuk mempelajari bagaimana bersikap baik dan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari.
6. Bermanfaat untuk mempelajari bagaimana bersikap semangat dan jujur untuk menjadi seorang pemenang
7. Supaya kita menjadi pemuda pemenang yang bermoral dan jujur dalam segala aspek kehidupan.
8.Supaya masyarakat terkhusus mahasiswa memahami bahwa untuk menjadi pemenang kita pasti akan mengalami kegagalan tapi tidak menjadi alasan untuk kita patah semangat
19.Supaya Mahasiswa menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk semakin maju .
BAB II
1.Peranan Mahasiswa dikampus
(peran mahasiswa sebagai motivator)
Tema yang saya  angkat berkenaan dengan bagaimana kami sebagai Mahasiswa Universitas Nomensen Pematang Siantar boleh menjadi motivator dikalangan masyakrakat terkhusus dilingkungan muda-mudi untuk membentuk pribadi yang berjiwa pemenang. Jadi berbicara tentang menjadi motivator setiap mahasiswa harus terkebih dahalu mengetahui apa itu motivasi .
Pengertian Motivasi dari berbagai sumber :
Uno (2007)
Motivasi merupakan dorongan internal dan eksternal dalam diri individu yang disebabkan adanya minat dan keinginan, dorongan, kebutuhan, harapan, cita-cita, dan tujuan. Motivasi sendiri merupakan sesuatu yang dapat membuat seseorang melakukan ‘sesuatu’. Seperti yang diungkapkan oleh Sargent dan dikutip oleh Howard, 199, “Bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya,” (Siagian, 2004).

Uno (2007) v2
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan internal dan eksternal dalam diri individu yang diindikasikan dengan adanya keinginan, minat, dan hasrat, dorongan juga kebutuhan; cita-cita dan harapan; serta penghargaan dan penghormatan.
American Encyclopedia
Motivasi merupakan kecenderungan (sifat pertentangan) dalam diri individu yang membangkitkan semangat dan dorongan, topangan, dan arahan dalam melakukan suatu tindakan
Hamalik (1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energy dalam diri atauindividu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam mencapai suatu tujuan.
Hamalik (1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energy dalam diri atau individu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam mencapai suatu tujuan.
Hamalik (1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri atau individu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam mencapai suatu tujuan.
Makmun (2004)
Motivasi merupakan suatu kekuatan, tenaga, daya, dan keadaan yang kompleks juga kesiapsediaan dalam diri seseorang untuk bergerak ke suatu tujuan tertentu baik disadari maupun tanpa disadari.
Sardiman (2007; 73)
Motivasi berasal dari kata ‘motif’ yang mana dapat diartikan sebagai penggerak aktif pada suatu keadaan tertentu, khususnya dalam suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan yang disarakan dan mendesak.
Mulyasa (2003; 112)
Pengertian motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang menimbulkan adanya tingkah laku ke suatu tujuan tertentu. Seseorang akan bersungguh-sungguh dan memiliki niat karena suatu keinginan yang tinggi.
Mc. Donald (dalam Sadirman, 2007; 73)
Motivasi merupakan perubahan energi dalam individu yang ditandai dengan adanya ‘feeling’ atau perasaan yang didahului dengan adanya tanggapan terhadap suatu kejadian tertentu.
Azwar (2000; 15)
Motivasi merupakan suatu rangsangan, dorongan, ataupun pembangun yang terdapat pada seseorang atau sekelompok masyarakat dalam berbuat dan bekerjasecara optimal dalam melakukan sesuatu yang sudah direncanakan dalam mencapai tujuan tertentu yang sudah ditetapkan.
Victor H. Vroom
Motivasi merupakan suatu akibat dari suatu hasil yang ingin diraih atau digapai oleh suatu individu dan juga suatu perkiraan yang dilakukannya itu benar dan dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.
Malayu (2005;143)
Motivasi berasal dari kata ‘movere’ yang berarti dorongan atau pemberian daya penggerak yang dapat memunculkan gairah dan semangat tindakan individu agar mereka dapat bekerjasama, kerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya dalam mencapai kepuasannya.
Weiner (1990)
Motivasi dapat didefinisikan sebagai bentuk keadaan dan kondisi internal yang dapat memunculkan seseorang untuk melakukan tindakan, mendorong untuk mencapai tujuan tertentu juga dapat membuat individu tertarik untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Victor H. Vroom
Motivasi merupakan suatu akibat dari suatu hasil yang ingin diraih oleh suatu individu dan suatu perkiraan yang dilakukannya dapat mengarah kepada suatu keinginannya.
G. R. Terry (dalam Malayu, 2005: 145)
Motivasi merupakan suatu kegiatan yang ada pada diri individu yang dapat memberikan rangsangannya dalam melakukan suatu tindakan.
Edwin B Flippo : Motivasi merupakan suatu keahlian yang dapat mengarahkan suatu individu atau kelompok agar dapat melakukan suatu tindakan yang optimal, sehingga individu atau kelompok tersebut dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.
G.R.Terry
Motivasi merupakan suatu keinginan yang ada pada diri individu yang dapat merangsangnya untuk melakukan suatu tindakan.
Robbin dan Judge
Motivasi merupakan suatu proses yang menjelaskan intensitas, ketekunan, dan arah seseorang agar dapat mencapai tujuan dan target keinginannya.
Mulyasa (2003; 112)
Motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang dapat menyebabkan timbulnya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Seseorang akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi. Seseorang akan belajar jika ada faktor pendorongnya yang disebut sebagai motivasi.
Morgan et al (dalam Marwansyah dan Mukaram, 2000; 151)
Motivasi merupakan kekuatan yang dapat mengendalikan dan menggerakkan individu dengan memberikan arah pada suatu perilaku dan sikap dengan dasar kecenderungan untuk menunjukan perilaku tersebut.
Edwin B. Flippo
Motivasi merupakan suatu keahlian dalam mengarahkan seseorang dan kelompok agar dapat melakukan suatu tindakan agar berhasil, sehingga individu atau kelompok tersebut dapat melakukan suatu hal dengan tujuan yang ingin digapai.



Disini, tujuan yang kami maksud adalah menjadi pemenang dalam banyak hal positif. Dorongan yang akan kami berikan bisa berbentuk :
1). Antusiasme
2). Berpengharapan
3). Semangat
4).  Percaya diri dan optimis
Kita bisa melakukanbanyak hal setiap harinya senantiasa dibayangi oleh adaya motivasi. Memberikan motivasi adalah menyalakan kembali api motivasi didalam diri seseorang supayakembali bersemangat dan menjadi diri sendiri, memiliki keberanian dan pantang menyerah untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Kemampuan untuk memberikan motivasi adalah sebuah keterampilan yang bisa oleh siapa saja. Manusia ibarat sebuah gunung es yang tertutup oleh samudera,yang terkadang perlu diingatkan bahwa kadang yang terlihat adalah kekurangan (potongan es diatas air) namun keunggulannya tidak kelihatan karena masih dibawah permukaan air. Salah satu cara memperlihatkan potongan es yang besar itu adalah memvberikan motivasi kepada orang-orang banyak. Untuk menjadi seorang motivator yang nyata mahasiswa terlebih dahulu harus memotivasi diri sendiri, karna memotivasi diri sendiri adalah hal yang pokok sebelum kita memotivasi orang lain. Kita (mahasiswa) harus menciptakan suasana dan keteladanan yang dapat menjadi bahan bakar kita untuk membakar oranglain. Para motivator ulung adalah orang-orang yang dihormati atas keberhasilan mereka sebelumnya. Mahasiswa akan menjadi motivator sebenarnya adalah ketika kita memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a). Positif
b). Rasa berterimakasih kepada orang-orang terbaik yang bekerjasama dengan kita
c). Menyadari pentingnya harga diri
Yang kemudian mahasiswa harus memiliki kecerdasan emosi, karena kecerdasan emosi adalah dasar bekerjasama dan berkomunikasi baik dengan diri sendiri maupun oranglain. Kecerdasan emosi mencakup pengelolan emosi diri sendiri maupun oranglain. Memiliki empati juga adalah hal yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa, artinya dengan berusaha menempatkan diri menjadi oranglain, ide-ide untuk memotivasi orang akan lebih tajam karena kita melihat dengan pandangan kita sendiri bukan dengan pandangan oranglain. Agar benar-benar menjadi seorang motivator,mahasiswa perlu memahami beberapa hal berikut :

1). Mengharapkan yang terbaik dari orang yang anda pimpin
Sebagai seorang motivator, anda harus membantu orang-orang untuk mencapai keberhasilan sehingga mereka dapat memberikanhasil yang terbaik kepada anda, harus sealalu mengingatkan yang kita motivasi bahwa dia atau mereka memiliki potensi tersembunyi dan keinginan untuk melihat mereka berhasil.

2). Menetapkan standar keunggulan yang tinggi
Prinsip ini merupakan prinsip pendahuluan dimana rencana motivasi yag baik haruslah dirancang dengan melihat keinginan/hasrat mereka saat ini bukan berdasarkan motivator itu sendiri. Jangan menganggap bahwa orang lain memiliki kebutuhan yang sama dengan anda.
3). Menetapkan standar keunggulan yang tinggi
Artinya mendorong seseorang untuk mencapai target atau nilai tertentu standar keunggulan juga merupakan budaya/kebiasaan yang menjunjung tinggi prestasi tertentu. Memiliki keunggulan yang tinggi merupakan kebanggaan tersendiri bagi seseorang yang mampu meraihnya

4). Menciptakan suasana dimana kegagalan bukan sesuatu yang fatal
Motivator yang tulus akan selalu mengingatkan bahwa kegagalan bukan berarti dari segalanya. Tidak ada manusia yang tidak  perna gagal tetapi hanya sedikit yang mampu bangkit dari kegagalannya dan yang mampubangkitlah yang akan mencapai kesuksesan. Seorang motivator tidak akan mengumumkankegagalan seseorag tetapi hanya keberhasilan yang dicapai. Mahasiswa boleh memberikan contoh-contoh orang berhasil didunia dengan berkali-kali kegagalan, yang dapat memberikankita berbagaimacam motivasi  diantaranya :
a). THOMAS ALFA EDISON
b). ABRAHAM LINCOLN
c). WINSTON CURALL
d). Ir. SOEKARNO ( presiden Ri )

5). Jika mahasiswa mengharapkan seseorang untuk melakukan apa yang diinginkan, maka topanglah rencananya yang mengarah tujuan itu
Prinsip yang kelima ini mengajarkan seseorang mahasiswa menjadi motivator yang seantiasa mendukug orang lain untuk melakukan apa yang motivator tersebut (kita) inginkan, mugkin sepintas akan terlihat seorang motivator (mahasiswa) memperalat seseorang, akan tetapi sebenarnya adalah bukan demikian.
Contoh : Seorang ayah menghendaki anaknya supaya menjadi petenis profesional, berjuag sejak anaknya masih kecil. Sang ayah menjadi motivator memancig minat dan menggali bakat tenis dari anaknya sendiri, menemaninya berlatih dan bertanding terus menerus dan sampai anaknya berhasil menjadi petenis profesional. Tidak hanya itu, ia juga mendorong anaknya memberikan semangat dan membesarkan anak-anak nya dengan mengejar capaian hidup semaksimal mungkin.
(Ayah sebagai motivator buat sianak dalam mengasah kemampuan nya sebagai pemain tenis profesional)

6) Pakailah keteladanan untuk merangsang keberhasilan
Untuk membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu, menuntut kita sendiri yang harus memberi contoh agar dia melakukannya, cerita mengenai kerja keras ada keberhasilan dapat membuat seseorang menjadi yakin karena cerita-cerita tersebut langsung mengena ke hati yang menggetarkan dan mengubah sikap kita.

7). Kenalilah dan berikan pujian atas prestasi
Sebuah pujian adalah penguatan secara positif dalam psikologi. Berikanlah pujian secara langsung dan dapat diketahui juga oleh orang banyak. Dalam hal ini kita juga harus memahami bahwa manusia adalah mahluk yang haus akan pujian atas prestasi yang telah mereka capai.

8). Pergunakanlah perpaduan antara yang positif dan negatif
Pergulatan positif adalah pujian, penghargaan, kasih dan lain-lain, sedangkan pergulatan negatif adalah teguran, hukuman, amarah, dan lain-lain. Kedua pergulatan ini adalah dua hal yang saling bertolak belakang,tetapi sama-sama merupakan cara untuk memotivasi orang, seorang motivator harus jeli menggunakan yang positif dan negatif memotivasi  oranglain. Dalam situasi tertentu motivator bisa saja bertindak keras, tetapi tetap bertindak adil sehingga seseorang bisa memahami nilai-nilai yang ditanamkan dan tidak asal melihat hukumannya saja, tetapi kita disini menganjurkan akan lebih baik jika lebih banyak mengeluarkan pujian dibandingka hukuman atau teguran.

9). Sesekali ciptakan hasrat untuk bersaing
Persaingan tidak terlalu efektif apabila terus-menerus dilakukan karena bisa menciptakan kompetisi yang tidak sehat, gunakanlah persaingan untuk memberikan inspirasi dan memacu semangat yang memotivasi bukan hanya media untuk melemparkan kritik.

10). Upayakanlah kerjasma
Kerjasama disini berarti bukanlah sesuatu secara bersama-sama kebersamaaan membangkitkan motivasi yang luarbiasa karena semakin banyakyang menemani maka semakin kuat tekad yang timbul serta lebih berani dan percaya diri.
(Kerjasama antar Mahasiswa Sehingga Masalah Mudah di Atasi)

11). Upayakan agar didalam kelompok ada peluang untuk melawan
Sewaktu memimpin sebuah kelompok yang memiliki beberapa orang anggota dengan sifat melawan, seorang pemimpin sekaligus mahasiswa (sebagai motivator) tidak selalu menganggap kehadiran seseorang pemberontak akan mematikan niat kita sebagai motivator mereka.

12.Usahakan lah agar motivasi anda tetap tinggi
Beberapa cara seorang motivator dapat memotivasi dirinya sendiri adalah :
a.Bergaulah dengan orang-orang yang berhasil dan berpikiran positif
b.Awasi gagasan-gagasan yang masuk
c.Manfaatkan sumber informasi
d.Tingkatkanlah kemampuan dan keterampilan dengan mengikuti kursus/seminar
e.Tingkatkan spritualitas

Dalam menempatkan diri sebagai motivator mahasiswa harus paham bentuk-bentuk motivasi,antara lain:
1. Tegura atau Kritik
Menegur berarti mengingatkan bila seseorang tidak mencapai standar agar dia dapat mencoba kembali mencapai standar tersebut. Di dalam menegur, seorang motivator harus dapat memperlihatkan kesalahan apa yang terjadi, memiliki cukup fakta dan disertai perasaan sang motivator, apakah marah, tersinggung ataupun frustasi.
Mengkritik adalah sebuah tindakan yang sulit kalau kita melihat prinsip-prinsip berkomunikasi yang diungkapkan oleh Dale Carnegie, yaitu jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh sebaliknya berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Jadi sebisa mungkin jangan menyampaikan kritik, tetapi berikan saran-saran berharga yang membangun.
2. Amarah
Amarah adalah emosi yang digunakan oleh pembicara-pembicara untuk memukau pendengarnya. Amarah seorang jenderal digunakan untuk membangkitkan kemarahan seluruh tentaranya untuk membangkitkan semangat juang seluruh tentaranya. Amarah seorang manajer untuk menegaskan kembali standar keunggulan mutu perusahaan.
3. Tantangan
Adalah target yang tidak mustahil untuk dilakukan dengan melihat keterbatasan-keterbatasan yang ada. Tantangan yang realistis mampu membangkitkan antuasisme dari staff / tim untuk memberikan performa terbaik yang semakin baik lagi.
4.Kecacatan tubuh
Di dalam buku-buku banyak yang mengisahkan orang-orang cacat yang berhasil berjaya di bidangnya. Sebagai contoh Andrea Bocelli, penyanyi suara tenor yang sangat terkenal meskipun tidak dapat melihat. Setelah memperoleh keberhasilan, mereka tidak tinggal diam tetapi selalu memotivasi orang lain apalagi yang mengalami cacat tubuh untuk terus berusaha mencapai keberhasilan dan tidak selalu melihat kekurangan yang mereka miliki.
5. Kepercayaan dan tanggung            jawab
Buatlah orang tersebut merasa penting dan dibutuhkan oleh orang lain serta diperhatikan oleh orang lain termasuk Anda.
Secara umum, beberapa orang akan terpengaruh untuk berusaha jika diberikan tanggung jawab karena tanggung jawab adalah wujud otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, memberikan tanggung jawab berarti memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membuktikan kemampuannya.
6. Materi
Memberikan materi adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (Teori Maslow). Materi dapat berupa gaji yang pantas, fasilitas, kendaraan, rumah, dan lain sebagainya.
Motivasi di berbagai bidang :
Olahraga
Motivasi berupa latihan mental, khususnya kepada pemain-pemain muda untuk membentuk kepercayaan diri, keyakinan dan target untuk menjadi juara. Motivasi merupakan faktor nonteknis yang menentukan kondisi mental atlet di samping faktor nonteknis. Di dalam sebuah pertandingan, kehadiran pendukung memberikan keuntungan besar kepada atlet yang didukungnya.
 Perusahaan
Secanggih apa pun pengetahuan dari pemimpin puncaknya, dalam titik tertentu keberhasilan ditentukan oleh berapa besar motivasi kerja dari seluruh karyawan dari perusahaan tersebut. Motivasi kerja tersebut ditunjukkan dengan penampilan yang prima untuk perusahaan.
Ketentaraan
Dalam setiap pertempuran, kehadiran seorang pemimpin perang yang disegani memberikan motivasi tempur yang tinggi kepada setiap tentara yang dipimpinnya.
Penutup
Dengan menjadi seorang motivator, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan seperti kerja sama tim, jiwa kepemimpinan dan motivasi diri yang lebih kuat.
Seseorang yang memberikan motivasi kepada teman-teman, kerabat, rekan kerja membuat dunia ini akan menjadi tempat hidup yang lebih baik
Ciri-Ciri Motivasi
Menurut Sardiman, ada beberapa ciri dari motivasi:
1. Rajin dalam melakukan tugas / kegiatan tertentu
2. Tidak putus asa saat menemukan kesulitan
3. Menunjukkan minat untuk menghadapi masalah yang muncul saat melakukan tugas tertentu
4. Lebih suka melakukan tugas tersebut secara pribadi
5. Berusaha mempertahankan hal yang sudah ia yakini
Fungsi Motivasi
Fungsi Motivasi
Menurut Sardiman, motivasi memiliki tiga fungsi yaitu:
1. Mendorong manusia untuk bergerak atau melakukan sesuatu
Bisa dibilang motivasi merupakan hal yang menggerakan seseorang untuk mengerjakan suatu kegiatan.
2. Menentukan arah perbuatan
Dengan kata lain, motivasi mengarahkan kita agar bisa mencapai tujuan yang kita inginkan.
3. Menyeleksi perbuatan
Motivasi juga membantu menentukan hal-hal / tindakan apasaja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Sebagai contoh siswa yang termotivasi untuk mendapat nilai bagus tentu akan menghabiskan waktunya dengan belajar dan bukannya bermain ponsel selama berjam-jam.
Tujuan Motivasi
Menurut Hasibuan, tujuan motivasi di kalangan karyawan adalah sebagai berikut:
1. Untuk memberi dorongan atau semangat pada rekan kerja / bawahannya.
2. Membuat karyawan lebih produktif saat bekerja
3. Membuat karyawan loyal dan mau tetap bertahan dalam perusahaan
4. Membuat karyawan lebih disiplin sehingga mengurangi jumlah karyawan yang sering absen
5. Menciptakan hubungan kerja dan suasana kerja yang lebih baik
6. Membuat karyawan lebih kreatif dan mau berpartisipasi dalam kegiatan kantor.
7. Membuat karyawan lebih bertanggung jawab atas tugas-tugas yang ia miliki.
Jenis-Jenis Motivasi
Secara umum, motivasi dibagi menjadi dua jenis:
1. Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini muncul karena adanya dorongan dari dalam diri seseorang. Contoh dari motivasi intrinsik misalnya seorang anak termotivasi untuk membaca buku pelajaran, padahal tidak ada orang yang menyuruh atau memotivasinya untuk membaca.
(Buku adalah jendela dunia)

2. Motivasi Ekstrinsik
Berbeda dengan motivasi intrinsik, motivasi ektrinsik ini muncul karena adanya faktor luar (faktor eksternal). Sebagai contoh seorang anak mendadak rajin belajar bahasa Inggris karena tahu kalau besok akan ada ujian. Dalam kasus ini, bisa dikatakan ia termotivasi untuk belajar karena faktor eksternal, yaitu faktor agar bisa memperoleh nilai bagus dan dipuji oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sedangkan menurut Lifemojo, ada tujuh jenis motivasi yaitu:
1. Motivasi prestasi
Orang yang memiliki jenis motivasi prestasi akan berorientasi pada tujuan yang ingin ia capai. Ia akan menetapkan target dan melakukan sejumlah hal demi meraih target yang telah ia tentukan tersebut.
2. Motivasi peningkatan diri
Motivasi peningkatan diri adalah motivasi untuk mencapai keinginan pribadi yang berasal dari dalam diri manusia (tidak dipengaruhi oleh orang luar). Jenis motivasi ini sangat penting dalam kehidupan seseorang karena bisa membantu mencapai kesuksesan, baik itu soal pekerjaan ataupun kehidupan pribadi.
3. Motivasi ektrinsik
Motivasi ini bisa timbul dalam bentuk positif sekaligus negatif.
4. Motivasi takut
Tahukah kamu, kalau rasa takut pada suatu hal juga bisa menjadi salah satu motivasi. Misalnya kamu takut kecelakaan saat sedang mengemudi. Hal ini akan memotivasimu untuk mengemudi dengan hati-hati dan selalu mengutamakan keselamatan dalam hal berkendala.
5. Motivasi investasi
Artinya manusia termotivasi untuk berkomitmen dalam melakukan suatu tugas dengan baik. Sebagai contoh, wanita yang bermimpi menjadi penyanyi harus memiliki komitmen tinggi untuk mencapai impiannya. Ia harus bekerja keras seperti berlatih menyanyi secara rutin, les vokal, ikut perlombaan menyanyi, dan lain sebagainya.
6. Motivasi sosial
Ada juga orang yang menganggap kehidupan sosial sebagai salah satu motivasi dalam dirinya. Ia akan berusaha dan melakukan sejumlah hal agar dirinya bisa diterima dalam sekelompok orang yang mereka kagumi.
7. Motivasi sikap
Contoh motivasi sikap adalah dengan mencoba berpikir positif. Meski terkesan sepele, berpikir positif sebenarnya sangat penting untuk dilakukan karena bisa membantumu mencapai tujuan hidupmu. Maka dari itu, cobalah menanamkan sikap positif mulai sekarang. Secara tidak sadar, kamu akan termotivasi untuk meraih apa yang kamu inginkan
Setelah Mahasiswa memahami dan melakukan hal-hal diatas,kita akan menjadi Mahasiswa sekalugus motivator dan melalui kita akan banyak orang yang semakin bersemangat untuk menjadi seorang pemenang yang sesungguhnya.
Seseorang yang memberikan motivasi kepada teman-teman,kerabat,membuat dunia akan menjadi tempat hidup yang lebih baik .

2.Konsep Teori Moral
(Permisi kepada orang yang lebih tua adalah bentuk moral)
B.  Perkembangan Moral Menurut Elizabeth Hurock
1.      Arti perilaku moral
Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. “moral” berasal dari kata latin mores, yang berarti tata cara kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral. Peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku demikian tidak disebabkan ketidakacuhan akan harapan sosial melainkan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
Perilaku amoral atau non moral lebih disebabkan ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa diantara perilaku salah anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.
Perilaku yang dapat disebut “moralitas yang sesunggunya” tidak saja sesuai dengan standar sosial melainkan juga dilaksanakan secara suka rela yang muncul. Ia muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai perasaan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing. Perkembangan moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif. Anak harus belajar apa saja yang benar dan apa saja yang salah. Selanjutnya, segera setelah mereka cukup besar, mereka harus diberi penjelasan mengapa ini benar dan itu salah. Mereka juga harus mempunyai kesempatan untuk mengambil bagian dalam kegiatan kelompok sehingga mereka dapat belajar mengenai harapan kelompok.
2.   Bagaimana Moralitas Dipelajari
Pada saat lahir tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau non moral.
Minat psikologi pada perkembangan awalnya dipusatkan pada disiplin-yaitu jenis disiplin yang terbaik untuk mendidik anak menjadi individu yang mematuhi hukum dan pengaruh disiplin tersebut pada penyesuaian pribadi dan sosial.
Teori terbaik dan yang paling berpengaruh ialah teori Piaget dan teori Kohlberg. Penemuan pasangan Gluecks yang pertama ialah bahwa kenakalan remaja bukan fenomena baru dari masa remaja melainkan suatu lanjutan dari pola perilaku asosial yang mulai pada masa kanak-kanak.Penemuan kedua ialah bahwa terdapat hubungan yang erat antara kenakalan remaja dan lingkungan, terutama lingkungan rumah.
3.   Perilaku Moral
Perilaku yang sesuai kode moral kelompok sosial. Moral  berasal dari kata latin ‘mores’, yang berarti tatacara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral-peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
4.   Perilaku Tak Bermoral
Perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Tidak disebabkan ketidakacuhan akan harapan sosial melainkan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
5.   Perilaku Amoral
Lebih disebabkan ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa diantara perilaku salah anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.
Moralitas yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial tapi juga dilaksanakan secara sukarela. Ia muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai perasaan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing.
6.   Perkembangan moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif.
Reaksi menyenangkan dengan hal yang benar dan reaksi yang tidak menyenangkan dengan hal yang salah.
Dalam mempelajari sikap moral, terdapat 4 aspek pokok utama:
a.    Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantukan dalam hukum, kebiasaan dan peraturan.
Peraturan dan hukum itu berbeda :
1)      Peraturan dibuat oleh orang yang bertanggung jawab mengasuh anak. Hukum dibuat oleh pembuat hukum yang dipilih oleh suatu negara.
2)      Hukum menentukan hukuman menurut keinginan/tingkah orang yaang mengawasi anak tersebut.
3)      Jika orang belajar tentang hukum atas pelanggarannya.
4)      Beratnya hukuman atas pelanggaran hukum bervariasi dengan beratnya tindakan yang dilakukan.
5)      Hukum lebih seragam dan lebih konsisten dibandingkan dengan peraturan.
Peraturan befungsi sebagai pedoman perilaku anak dan sebagai sumber motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan sosial, sebagaimana hukum dan kebiasaan menjadi pedoman dan sumber motivasi bagi anak remaja dan orang dewasa.
b.    Mengembangkan hati nurani
Dengan hati nurani dalam perkembangan moral adalah sebagai kendali internal bagi perilaku individu.
Sekarang telah diterima secara luas bahwa tidak seorang anak pun dilahirkan dengan hati nurani dan bahwa setiap anak saja harus belajar apa yang benar dan yang salah tetapi juga harus menggunakan hati nurani sebagai pengendali perilaku dan ini sebagi salah satu tugas perkembangan yang penting dalam masa kanak-kanak.
c.    Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok.
Rasa bersalah: Sejenis evaluasi diri khusus yang negatif yang terjadi bila seorang individu mengakui bahwa perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.
Ada empat kondisi yang harus dipenuhi sebelum rasa bersalah dialami:
1)      Anak-anak harus menerima standar tertentu mengenai hal yang benar dan yang salah atau “baik” dan “buruk” sebagai standar mereka.
2)      Mereka harus menerima kewajiban mengatur perilaku mereka agar sesuai dengan standar yang telah merekan terima.
3)      Mereka harus merasa bertanggung jawab atas setiap penyelewengan dari standar tersebut dan mengaku bahwa mereka, dan bukan orang lain, yang harus disalahkan.
4)      Mereka harus memiliki kemampuan mengkritik diri yang cukup besar untuk menyadari bahwa suatu ketidaksesuaian antara perilaku mereka dan standar internal perilaku telah terjadi.
Rasa malu: Reaksi emosional yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian ini yang belum tentu benar-benar ada, mengakibatkan rasa rendah diri terhadap kelompoknya.
Rasa malu hanya bergantung pada sanksi eksternal saja, walaupun ia mungkin disertai rasa bersalah. Rasa bersalah bergantung pada sanksi internal dan eksternal.
Rasa bersalah merupakan salah satu mekanisme psikologis yang paling penting dalam proses sosialisasi. Ia juga merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup budaya karena ia merupakan penjaga yang paling efisien di dalam diri tiap individu, dan menjaga keselarasan perilaku individu dengan nilai moral masyarakatnya.
d.   Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Peranan penting interaksi sosial pada perkembangan moral:
1)   Dengan memberi anak standar perilaku yang disetujui kelompok sosialnya.
2)   Dengan memberi mereka sumber motivasi untuk mengikuti standar tersebut melalui persetujuan dan ketidaksetujuan sosial.
Anak yang berinteraksi sosial dengan anak lain yang kode moralnya sesuai dengan kode di rumah, di sekolah dan masyarakat luas akan meletakkan dasar bagi perilaku moral yang akan mengarah ke penyesuaian dan begitu juga sebaliknya. Jenis teman bermain jauh lebih penting dibandingkan dengan jumlahnya.
Perkembangan moral bergantung dari perkembangan kecerdasan.Pada waktu perkembangan kecerdasan mencapai tingkat kematangannya, perkembangan moral juga harus mencapai tingkat kematangannya.Jika tidak, maka individu akan dianggap sebagai orang yang “tidak matang secara mental”.
7.   Tahapan Piaget dalam perkembangan moral
Terjadi dalam dua tahap:
a.     Tahap realisme moral/moralitas oleh pembatasan
Perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran/penilaian.Anak menilai tindakan sebagai “benar” atau “salah” atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di belakangnya serta sama sekali mengabaikan tujuan tindakan.
b.    Tahap Moralitas Otonomi/Moralitas Oleh Kerja Sama/Hubungan Timbal Balik
Anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya.Berlangsung dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 dan lebih.Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.
8.   Tahapan Kohlberg
Kohlberg telah melanjutkan penelitian Piaget dan telah menguraikan teori Piaget secara terperinci
a.    Tingkat I: Moralitas Prakonvensional
Anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman, dan moralitas suatu tindakan dinilai atas dasar akibat fisiknya.
b.    Tingkat II: Moralitas Konvensional
1)   Tahap Pertama: Moralitas anak yang baik anak itu menyesuaikan dengan peraturan untuk mendapat persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan baik dengan mereka.
2)   Tahap kedua: Anak yakin bahwa bila kelompok social menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok, mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhindar dari kecaman dan ketidaksetujuan social.
c.    Tingkat III: Moralitas Pascakonvensional/Moralitas prinsip-prinsip yang diterima sendiri
1)   Tahap Pertama: Anak yakin bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinan-keyakinan moral yang memungkinkan modifikasi dan perubahan standar moral bila ini terbukti akan mengumpulkan kelompok sebagai suatu keseluruhan.
2)   Tahap Kedua: Orang menyesuaikan dengan standar social dan cita-cita internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan untuk menghindari kecaman sosial.
9.   Fase perkembangan moral
a.       Perkembangan perilaku moral
1)   Coba Ralat
Dengan mencoba suatu pola perilaku yang memenuhi standar sosial dan mendapat persetujuan sosial. Jika tidak, mereka akan menggunakan metode lain secara kebetulan. Menghabiskan waktu dan tenaga dengan hasil akhir yang tidak memuaskan.
2)   Pendidikan Langsung
Memberi reaksi yang tepat dalam situasi tertentu.
3)   Identifikasi
Mengidentifikasi dengan orang yang dikaguminya, mereka meniru pola perilaku orang tersebut, secara tidak sadar dan tanpa tekanan.
b. Perkembangan Konsep Moral
Fase belajar tentang konsep moral, atau prinsip-prinsip benar dan salah dalam bentuk abstrak dan verebalitas. Harus menunggu hingga anak telah mempunyai kemampuan mental untuk membuat generalisasi dan mentransfer prinsip tungkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain.

10.    Disiplin
a.    Disiplin=Hukum
Disiplin adalah cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok agar anak berperilaku sesuai dengan standar kelompok sosial, tempat mereka diidentifikasi. Konsep positif disiplin: Menekankan pertumbuhan di dalam, disiplin diri, dan pengendalian diri.
Disiplin negative: Memperbesar ketidakmatangan individu. Disiplin positif: Menumbuhkan kematangan. Fungsi pokok disiplin: Mengajar anak menerima pengekangan yang diperklukan dan membantu mengarahkan energi anak kedalam jalur yang berguna dan diterima secara sosial.
Kondisi yang mempengaruhi kebutuhan anak akan disiplin:
1)   Terdapat variasi dalam laju perkembangan berbagai anak, tidak semua anak yang usianya sama mempunyai kebutuhan akan disiplin yang sama.
2)   Kebutuhan akan disiplin bervariasi menurut waktu dalam sehari
3)   Kegiatan yang dilakukan anak.
4)   Disiplin paling besar kemungkinannya dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari yang rutin, misalnya makan, tidur, atau membuat pekerjaan rumah.
5)   Kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan hari dalam seminggu.
6)   Disiplin lebih sering dibutuhkan dalam keluarga besar daripada keluarga kecil.
7)   Kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan usia
8)   Anak yang lebih besar kurang membutuhkan disiplin dibandingkan anak kecil.
b.    Menanamkan Disiplin
Di masa lampau hanya terdapat satu cara menanamkan disiplin yang disetujui,. Sekarang cara itu disebut disiplin otoriter, disiplin permisif, dan disiplin demokratis.

1)         Cara mendisiplin otoriter
Peraturan dan peraturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang berat bila terjadi kegagalan memenuhi standar dan sedikit, atau sama sekali tidak adanya persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak memenuhi standar yang diharapkan.
Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan ekternal dalam bentuk hukuman. Bahkan setelah anak bertambah besar, orang yang kaku jarang mengendurkan pengendalian mereka atau menghilangkan hukuman badan. Tambahan pula, mereka tidak mendorong anak untuk  dengan mandiri mengambil keputusan-keputusan yang harus dilakukan, dan tidak menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan. Jadi, anak-anak kehilangn kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan perilaku mereka sendiri.
2)   Cara mendisiplin yang permisif
Disiplin permisif sebetulnya berarti sedikit disiplin atau tidak berdisiplin. Biasanya disiplin permisif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara social dan tidak menggunakan hukuman.
3)   Cara mendisiplin demokratis
Metode demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya.
Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan penekanan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuman dilakukan apabila terdapat bukti bahwa anak dengan sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak sesuai dengan apa yang orang tua harapkan maka anak tersebut akan mendapatkan penghargaan dalam bentuk pujian.
Falsafah yang mendasari disiplin demokratis ini adalah falsafah bahwa disiplin bertujuan mengajar anak mengembangkan kendali atas perilaku mereka sendiri sehingga mereka akan melakukan apa yang benar, meskipun tidak ada penjaga yang mengancam mereka dengan hukuman bila mereka melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan.
4)   Evaluasi cara mendisiplin
Walaupun disiplin otoriter dalam bentuk paling keras lebih merusak anak pada waktu–waktu tertentu selama pola perkembangan dibandingkan dengan saat yang lain, disiplin ini selalu meninggalkan bekas pada perilaku anak. Orang tua yang terlalu keras, yang menggunakan metode yang kasar dan menghukum untuk mencapai tujuan mereka, mungkin dapat membuat anak mematuhi standar mereka dan menjadi anak yang baik . Namun, walaupun di permukaan semuanya tampak baik, di bawahnya mungkin tersimpan rasa permusuhan yang akan meledak keluar pada waktunya. Anak lalu akan melakukan banyak hal yang dalam suasana lain tidak akan dilakukannya.
Pengaruh yang paling penting dari disiplin yang terlalu lunak berasal dari reaksi orang luar rumah, disekolah, atau lingkungan sekitarnya.disiplin demokratis menumbuhkan penyesuayan pribadi dan sosial yang baik dan menghasilkan kemandirian dalam berperilaku yang sehat positif dan dan penuh rasa percaya.
5)   Evaluasi disiplin
Disiplin tidak boleh dievaluasi berdasarkan hasil langsungnya dan juga tidak boleh dievaluasi dengan melihat perilaku moral anak itu saja. Walupun anak itu dapat dipaksa menurut pola perilaku yang disetujui orang dewasa dan dijadikan anak yang sempurna.
Havighurst telah memperingatkan bahwa beberapa fungsi disiplin yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
6)      Kerteria disiplin yang bermanfaat
Ada kerteria yang dapat digunakan untuk mengefaluasi disiplin. Bila evaluasi positif untuk tiap kerteria, hal ini menunjukan bahwa disiplin yang digunakan telah memenuhi fungsinya dan bahwa disiplin itu boleh di anggap sehat atau baik.
Kerteria pertama pengaruh pada perilaku,tidak seorang pun dapat mengharap seorang anak, remaja, ataupun orang dewasa untuk bersikap dengan cara yang di setujui secara sosial pada segala waktu dan dalam semua situasi .akan tetapi bila anak’’ menunjukan kemajuan yang progresif dalam perilaku mereka dengan meningkatnya usia dan bila kesenjangan antara pengetahuan moral dan moral berlaku dan makin tidak serius dengan berlalunya waktu .
Krteria kedua, yang harus dilakukan dalam mengefaluasi disiplin ialah pengaruh pada sikap anak terhadap mereka yang berwenang dan disiplin yang diterimanya. Anak peka terhadap sikap adil orang tua, guru dan orang lain yang berwenang. Bila mereka menganggap perlakuan tidak bersikap musuhan dan merasa diperlakukan dengan sewenang-wenang.
Keluhan mereka penting dibandingkan dengan cara anak untuk berusaha memenuhi harapan sosial. Reaksi yang merugikan akibat perasaan diprlakukan dengan tidak adil paling sering terjadi tatkala mereka di hargai melakukan hal yang boleh dilakukan teman sebaya.
Kerteria ketiga dalam mengefaluasi pengaruh disiplin dalam kepribadian anak. Bila anak merasa di batasi atau atau dihukum secara tidak adil dan bila mereka merasa bahwa usaha mereka untuk mentaati peraturan tidak tidak dihargai karena mereka jarang mendapat pujian atau penghargaan lain. Anak yakin bahwa mereka korban perlakuan yang tidak adil hal ini sering berakibat gangguan kepribadian yang serius.


11.    Peraturan
Pokok pertama disiplin adalah peraturan. Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut ditetapkan oarang tua, guru, atau teman bermain yang bertujuan untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Dalam hal peraturan sekolah misalnya, peraturan ini mengatakan pada anak apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan sewaktu berada di dalam kelas, koridor sekolah, ruang makan sekolah, kamar kecil, dll.
Demikian juga, peraturan di rumah mengajarkan anak apa yang harus dan apa yang boleh dilakukan di rumah atau dalam hubungan dengan keluarga yaitu tidak boleh mengambil milik saudara, tidak boleh membantah nasihat orang tua dan tidak boleh lalai melakukan bagian tugas rumah tangga mereka.
a. Fungsi Peraturan
Peraturan mempunyai 2 fungsi yang sangat penting dalam membantu anak menjadi makhluk bermoral.
1)   Pertama, peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok tersebut. Misalnya, anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa menyerahkan tugas yang dibuatnya sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasinya.
2)   Kedua, peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila merupakan peraturan keluarga bahwa tidak seoarang pun boleh mengambil mainan atau milik saudaranya tanpa pengetahuan dan izin si pemilik, anak segera belajar bahwa hal ini dianggap perilaku yang tidak diterima bila melakukan tindakan terlarang ini. Agar peraturan dapat memenuhi kedua  fungsi penting di atas, peraturan itu harus dimengerti, diingat dan diterima oleh si anak.
b. Jumlah Peraturan
Banyaknya peraturan yang ada sebagai pedoman perilaku anak akan bervariasi menurut situasi, usia anak, sikap orang yang mendisiplin, cara teknik menanamkan disiplin dan banyak faktor lain. Umumnya terdapat lebih banyak paraturan dalam situasi sekolah dibandingkan dengan di rumah atau tempat bermain. Umumnya lebih banyak peraturan diperlukan bagi anak kecil daripada bagi anak besar. Menjelang masa remaja, anak dianggap telah belajar apa yang diharapkan kelompok sosial dari mereka, oleh sebab itu peraturan sebagai pedoman perilaku tidak lagi diperlukan. Akan tetapi, karena banyak anak, seperti juga anak remaja dan orang dewasa, kemungkinan lekas tergelincir ke dalam perilaku yang tidak diinginkan jika tidak ada peraturan, peraturan tetap berfungsi sebagai alat pengekang perilaku yang tidak diinginkan, yaitu fungsi pokok kedua dari peraturan.
c.  Evaluasi Peraturan
Peraturan bertindak sebagai dasar konsep moral dan konsep moral sebaliknya bertindak sebagai dasar kode moral. Dari peraturan anak belajar apa yang dianggap salah dan benar oleh kelompok sosial. Pertama  pengetahuan ini berfungsi sebagai dasar konsep moral spesifik yang berkaitan dengan perilaku tertentu di rumah, sekolah atau kelompok bermain. Seiring dengan peningkatan kemampuan kecerdasan anak, mereka mulai melihat unsur serupa dalam berbagai konsep dan konsep ini dihubung-hubungkan dan menjadi konsep moral umum atau nilai moral. Dari konsep moral umum atau nilai moral anak mengembangkan kode moral, mencuri dari orang lain dan berbohong merupakan perilaku yang dilarang oleh kode moral mereka.
12.    Hukuman
Pokok kedua disiplin ialah hukuman. Hukuman berasal dari kata kerja latin, punier dan berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan.
a.    Fungsi Hukuman
Hukuman mempunyai 3 peran penting dalam perkembangan si anak. Fungsi pertama ialah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakkan yang diperbolehkan. Dan fungsi ketiga dari hukuman ialah memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.
b.    Jenis Hukuman
Di masa lampau, hukuman oleh kebanyakan orang diartikan sebagai hukuman badan, yaitu menimbulkan rasa sakit dengan menempeleng, memukul, dan memecut. Ini dianggap sebagai satu-satunya cara yang efektif  untuk mencegah terulangnya perilaku anak yang salah.
Pada era pasca-Perang Dunia II, bandul lonceng bergerak ke arah sebaliknya, orang tua dan guru di Amerika Serikat menginjak apa yang acapkali disebut “era permisivitas” atau “spockism,” suatu era yang mencapai puncaknya pada tahun 50-an dan 60-an . Selama periode ini, bentuk hukuman yang lain sangat populer di mana-mana. Bentuk-bentuk ini antara lain mengisolasi anank dari kelompok sosial bila mereka berperilaku buruk, melarang anak menikmati kesenangan tertentu, misalnya menonton TV yang disukai, menakuti anak, mempermalukan, mengabaikan, atau mengancam bahwa mereka akan kehilangan kasih orang tua, membandingkan secara negatif dengan saudara atau orang lain, mengomel dan berulang-ulang mengungkit-ungkit pelanggaran anak.
Selama tahun 70-an, dengan meningkatnya kenakalan remaja, hukuman badan disukai lagi, walaupun dalam bentuk ringan dari sebelumnya.
c.    Evaluasi Hukuman
Dalam mengevaluasi bentuk hukuman, ada 2 kriteria yang digunakan. Pertama,  apakah hukuman tersebut sesuai ditinjau dari sudut perkembangan? Apakah anak itu mengerti mengapa hukuman itu diberikan? Ataukah dia mengingat kecerdasannya, belum cukup matang untuk melihat hubungan antara hukuman dan perilaku salah yang dihukum? Dengan meningkatnya usia, mereka secara bertahap membuat penilaian yang lebih matang terhadap hukuman yang mereka terima adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Kedua, apakah hukuman itu memenuhi ketiga tujuan disiplin yang disebut diatas: mendidik, menghalangi, dan memberi motivasi. Bertentangan dengan pendapat umum, hukuman badan merupakan salah satu bentuk hukuman yang paling tidak memuaskan karena anak jarang mengaitkan hukuman dengan tindakan yang menyebabkan dirinya dihukum. Karena pengaruh psikologis hukuman badan yang potensial membahayakan, kini disadari bahwa pemakaiannya harus dibatasi, dan sebaiknya tidak lagi digunakan setelah anak mampu mengerti alasan adanya peraturan-peraturan. Tetapi ada 3 situasi dimana hukuman badan berguna. Pertama, bila tidak ada cara lain untuk mengkomunikasikan larangan mengenai sesuatu yang mungkin berbahaya bagi diri anak atau orang lain. Kedua, bila hukuman dapat diberikan pada saat tindakan terlarang sedang berlangsung sehingga anak akan menghubungkan keduanya dan mengerti mengapa tindakan itu dilarang.Ketiga, bila beratnya hukuman badan disesuiakan dengan beratnya kesalahan.
Bentuk hukuman yang paling efektif mempunyai hubungan langsung dengan tindakan.  Studi tentang pengaruh hukuman telah menetapkan sejumlah unsur yang pokok untuk hukuman yang baik, antara lain :
1)   Hukuman harus disesuaikan dengan pelanggaran dan harus mengikuti pelanggaran sedini mungkin, sehingga anak akan mengasosiasikan keduanya. Bila seorang anak membuang makanan ke lantai karena sedang marah-marah, anak itu harus langsung membersihkannya.
2)   Hukuman yang diberikan harus konsisten sehingga anak itu mengetahui bahwa kapan saja suatu paraturan dilanggar hukuman itu tidak dapat dihindarkan.
3)   Apapun bentuk hukuman yang diberikan sifatnya harus impersonal sehingga anak itu tidak akan menginterpretasikan sebagai kejahatan si pemberi hukuman.
4)   Hukuman harus konstruktif sehingga memberi motivasi .
5)   Suatu penjelasan mengenai alasan mengapa hukuman diberikan harus menyertai hukuman agar anak itu akan melihatnya sebagai adil dan benar.
6)   Hukuman harus mengarah ke pembentukan hati nurani untuk menjamin pengendalian perilaku dari dalam di masa mendatang.
7)   Hukuman tidak boleh membuat anak merasa terhina.
13.    Penghargaan
Pokok ketiga dari disiplin ialah penggunaan penghargaan. Istilah “penghargaan” berabti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung.
a.       Fungsi Penghargaan
Penghargaan mempunyai 3 peranan penting dalam mengajar anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui masyarakat :
1)   Penghargaan mempunyai peranan mendidik
2)   Penghargaan berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial.
3)   Penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku ini.
Peran penghargaan pertama-tama positif yaitu memotivasi anak untuk melakukan apa yang dianggap sesuai. Sedangkan peran hukuman pertama-tama negatif yaitu menghalangi anak melakukan perbuatan yang tidak disetujui secara sosial.
b.      Jenis Penghargaan
Apapun bentuk penghargaan yang digunakan, penghargaan itu harus sesuai dengan perkembangan anak. Bila tidak, ia akan kehilangan efektivitasnya. Sebagai contoh, penggunaan komunikasi nonverbal untuk bentuk penghargaan terhadap anak kecil, dan sebaliknya penggunaan kata-kata pujian untuk bentuk penghargaan terhadap anak yng lebih besar karena bentuk komunikasi nonverbal kurang efektif.
Mungkin penghargaan yang paling sederhana adalah :
1)   Penerimaan sosial,
2)   Hadiah, diberikan untuk perilaku yang baik,
3)   Perlakuan yang istimewa.
Bagi anak yang lebih kecil, penghargaan yang lebih nyata, dalam bentuk hadiah, biasanya lebih baik, dimengerti dibandingkan perilaku istimewa.
c.    Evaluasi Penghargaan
Dengan meningkatnya usia, penghargaan bertindak sebagai sumber motivasi yang kuat bagi anak untuk melanjutkan usahanya untuk berperilaku sesuai dengan harapan. Bila usahanya tidak diperhatikan atau tidak dihargai, mereka mempunyai sedikit motivasi dan motivasi yang masih dimilikinya seringkali berkurang akibat kritik dan omelan tentang kesalahan mereka.
Sepanjang masa kanak-kanak, penghargaan mempunyai nilai edukatif yang penting. Imbalan mengatakan pada mereka bahwa perilaku mereka sesuai dengan harapan sosial dan memotivasi mereka untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Jadi penghargaan merupakan agen pendorong untuk perilaku yang baik.
14.    Konsistensi
Pokok ke-4 disiplin ialah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas., artinya ialah suatu kecenderungan menuju kesamaan. Konsistensi memungkinkan orang menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah sambil pada waktu yang bersamaan, cukup mempertahankan ragaman sehingga anak-anak tidak akan bingung mengenai apa yang diharapakan dari mereka.
Konsistensi harus menjadi ciri dari semua aspek disiplin. Harus ada konsistensi dalam peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalm cara peraturan ini diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan.
a.    Fungsi Konsisten
Konsistensi dalam disiplin mempunyai 3 peran yang penting, yaitu :
1)   Konsistensi mempunyai nilai mendidik yang besar,
2)   Konsistensi mempunyai nilai motivasi yang kuat,
3)   Konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.
b.    Evaluasi Konsistensi
Peranan konsistensi yang penting dalam disiplin telah ditegaskan dalam studi-studi mengenai pengaruh kurangnya konsistensi. Hal ini akan dibahas secara terinci dalam pasal bab ini yang membicarakan bahaya-bahaya dalam perkembangan moral. Tetapi dari segi positif, konsistensi mempunyai beberapa nilai penting. Ia memacu proses belajar dan dengan itu membantu anak belajar peraturan dan menggabungkan peraturan dan menggabungkan peraturan tersebut kedalam suatu kode moral. Hasilnya, anak-anak yang terus diberi pendidikan moral yang konsisten cenderung secara keseluruhan menjadi lebih matang secara moral dibandingkan teman sebaya mereka yang mendapat pendidikan moral yang tidak konsisten.
Anak yang mendapat disiplin yang konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk berperilaku menurut standar yang disetujui secara social daripada mereka yang didisiplin dengan tidak konsisten. Untuk menekankan betapa pentingnya konsistensi untuk perkembangan moral anak, spock telah menerangkan peran orang tua dalam memberikan disiplin yang konsisten bagi anak-anaknya. Ia mengatakan: “agar sitem berjalan baik, orang tua harus mempunyai suatu cita-cita tertentu. Mereka harus mengetahui apa yang diharapkan mereka dari anak mereka dan mengkomunikasikannya pada mereka secara jelas.”
15.    Bahaya Dalam Perkembangan Moral
Setiap tahun, laporan dari departemen kehakiman menunjukan bahwa jumlah kenakalan remaja dan kriminalitas dewasa terus meningkat, informasi ini menunjukan bahwa terdapat suatu hal yang sangat memperhatikan dalam perkembangan moral anak dan keluarga .
Penyebab kenakalan keluarga dan kriminalitas remaja dapat didiagnosis, setiap gejala untuk melakukan usaha ini akan gagal oleh karena itu berbagai usaha di lakukan para kriminolog, sosiologi, psikolog, dan lainya untuk melawan gejala ini.
Sejumlah perkiraan tentang penyebaran telah di kemukaakan dengan harapan memastikan siapa yg harus dipersalahkan. Orang lain menyalahkan  tentang kurangnya pendidikan keagamaan di rumah dan di sekolah dan berkurangnya orang yang pergi ke gereja. Orang lain lagi menyalahkan  keretakan didalam keluarga dan meningkatnya penceraian, ibu yang bekerja dan keluarga dengan orang tua tunggal.
Mungkin perkiran yang pasti dapat diterima mengenai penyebab kemerosotan moral seperti terbukti oleh peningkatan berbagai bentuk kenakalan dan kriminalitas, telah diputuskan pada sikap permisif atau disebut dengan spockisme. Dalam halaman berikutnya suatu usaha akan dilakukan untuk membahas bahaya umum dan perkembangan moral anak zaman sekarang, dengan harapan member titik terang dalam masalah sosial yang penting ini, akan jelas bahwa penyebabnya dan jika akan dilakukan pembaikan maka usaha mereka harus diputuskan kepada perbaikan metode menanamkan disiplin .
16. Keyakinan Bahwa Disiplin Itu Keyakinan Dan Sinonim
Banyak orang dewasa yakin bahwa disiplin hukuman sinonom ,akibatnya mereka yakin bahwa seorang pendisiplin yang baik ialah orang yang menggunakan hukum untuk menghalangi perilaku yang salah atau untuk mngajar anak tentang apa yang diterima dan yang tidak diterima oleh kelompok sosialnya.
Terdapat dua kekeliruan dalam keyakinan tersebut, pertama studi mengenai pengaruh hukuman badan seperti dikemukakan terlebih dahulu bahwa ahli mendukung perkembangan perilaku yang disetujui. Hukum badan merangsang perkembangan sikap yang merugikan pada anak sehingga tidak terjadi perbaikan dalam perilaku moral, melainkan peninggkatan immoralitas.
Kekeliruan kedua, ialah keyakinan bahwa hukum dapat memenuhi semua fungsi disiplin. Bila anak tidak menggetahui yang benar dan yang salah, bila usaha mereka tidak memenuhi harapan sosial tidak dihargai dan bila mereka menggembangkan sikap yang negatif terhadap yang berwenang karena mereka menggangap  mereka sebagai orang yang suka menghukum, maka mereka akan mempunyai sedikit keinginan untuk berusaha berperilaku sesuai dengan harapan.
17.    Kesulitan dalam belajar konsep moral
Belajar meresapi nilai moral kelompok sosial membutuhkan waktu, seperti halnya belajar konsep  moral tertentu.konsep belajar ini dipersulit oleh sejumlah faktor.
Sewaktu mempelajari nilai moral,anak itu mungkin merasa bingung tentang apa yang diharapkan kelompok sosial.
18.    Ketidak konsistenan dalam disiplin
Hanya jika disiplin itu konsisten,anak akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus dipatuhinya. Terdapat banyak ketidak konsistenan dalam mendisiplinkan anak. Pada orang tua dan guru mungkin tidak mengetahui benar apa yang mereka inginkan dari anak itu atau tidak tau betul apa yang harus mereka lakukan agar anak berperilaku yang mereka harapkan. Sikap mereka bervariasi antara kelunakan yang sudah hampir sama dengan membuang semua pengendalian dengan hingga standar yang begitu keras hingga anak hampir tidak bisa bergerak lagi. Fluktuasi dalam hubungan orang tua dan anak yang disebabkan perubahan dalam sikap anak terhadap orang tua dan sikap orang tua terhadap anak merupakan penyebab umum ketidakkonsistenan disiplin .
Mungkin akibat ketidakkonsistenan yang paling umum adalah perbedaan pendapat antara orang tua dan disiplin. Keras atau lemahnya disiplin itu sendiri tidaklah demikian membahayakan anak seperti  hanya ketidakkonsistenan. Bila kritik tidak dilakukan dihadapan anak, hal itu akan membahayakan secara tidak langsung dengan membuat orang tua yang dikritik merasa tidak aman secara pendisiplin
19.    Suapan
Suapan sebagai mana di terangkan terlebih dahulu merupakan sesuatu yang digunakn untuk membujuk atau mempengaruhi suatu tindakan dan penghargaan merupakan sesuatu yang diberikan sebagai balasan untuk suatu tindakan .dalam suapan, anak dijadikan suatu benda material atau suatu hak istimewah bila mereka mau berperilaku sesuai dengan orang tua guru atau orang dewasa lainnya.anak belajar mengharapkan penghargaan bila mana saja mereka berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat. Kemudian bila penghargaannya tidak kunjung datang motivasi mereka untuk bersikap dengan cara di setujui dimasa mendatang akan melemah .
20.    Kesenjangan antara konsep moral dan berperilaku  moral
Di antara orang dewasa dan anak” terdapat banyak kesenjangan antara kode moral seseorang dan perilaku moral. Tetapi kebanyakan orang konsisten dalam menghubungkan keyakinan moral dan perilaku. Menjadi semam moral dan kehormatan bagi mereka untuk memenuhi standar bila mereka tidak berbuat demikian mereka bersalah, dan bila tertangkap basah ia merasa malu. Studi mengenai kesenjangan antara pengetahuan moral dan perilaku moral dimasa kanak-kanak telah menggungkapkan tiga kesenjangan ini antara pengetahuan moral dan perilaku moral yang membahayakan penyesuaian perilaku yang baik.


 Pengertian Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur


Pengertian Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur – Jujur adalah suatu sifat manusia yang sangat sulit untuk diterapkan. Sifat jujur yang benar-benar jujur seringkali hanya dapat diterapakan oleh orang yang sudah terlatih dari kecil untuk menegakkan sifat jujur.
Untuk itu pada pembahasan kali ini kami akan mengulas tentang Kejujuran. Yang mencakup pengertian, karakteristik dan macam-macam sifat jujur dalam Islam dengan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan Studinews.co.id dibawah ini dengan seksama.
Pengertian Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur
Mari kita bahas mulai dari pengertian kejujuran terlebih dahulu.
Pengertian Kejujuran
Jika diatas sudah dibahas tentang definisi jujur maka sekarang adalah penjelasan tentang kejujuran. Pengertian Kejujuran adalah suatu sikap seseorang yang biasanya diungkapkan dengan ucapan ataupun perbuatan dengan spontan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa ada rekayasa dari yagn diucapkan dan dilakukannya.
Pengertian Kejujuran Menurut Para Ahli
Berikut adalah beberapa pengertian kejujuran dari para ahli terkemuka.
1. Kesuma, dkk (2012: 16)
Kesuma, dkk mendefinisikan jujur adalah suatu keputusan seseorang untuk mengungkapkan perasaannya, kata-katanya atau perbuatannya bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara berbohong atau meniru orang lain untuk keuntungan dirinya.
2. Mustari (2011: 13-15)
Mustari mendefinisikan jujur adalah suatu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap dirinya ataupun pihak lain.

3. Zuriah (2008: 49)
Zuriah mendefinisikan jujur adalah nilai dan prinsip kejujuran juga dapat ditanamkan pada diri siswa di jenjang pendidikan dasar melalui kegiatan mengoreksi hasil ulangan secara silang dalam kelas.
Karakterisktik Kejujuran
Kesuma, dkk (2012: 17) menyatakan orang yang mempunyai karakter jujur memiliki ciri-ciri dengan perbuatan sebagai berikut:
Apabila bertekad (inisiasi keputusan) untuk menjalankan sesuatu, tekadnya adalah kebenaran dan kemaslahatan.
Apabila berkata tidak berbohong (benar sesuai adanya)
Apabila terdapat kesamaan antara yang dikatakan hatinya dengan apa yang dilakukannya.
Individu yang mempunyai karakter jujur akan disegani oleh banyak orang dalam segala hal seperti dalam persahabatan, mitra kerja, dan lain sebagainya. Karakter jujur ialah salah satu karakters penting yang dapat membuat seseorang cinta kebenaran dan mau mengambil resiko sebesar apapun dari kebenaran yang dilakukannya




Kesimpulan dan Saran
Jadi untuk boleh menjadi seorang Pemenang yang sesungguhnya kita perlu memahami dengan benar semua hal-hal yang kami sudah lampirkan dalam makalah ini.Memiliki sikap yang baik,pantang menyerah,bersikap jujur dan selalu berfikir positif juga menjadi suatu penentu untuk kita boleh menjadi pribadi pemenang .
Dalam kehidupan kita memang sudah pasti akan mengalami dan menghadapi banyak masalah dan rintang tapi itu bukan jadi alasan untuk kita menyerah dan jatuh,justru kita harus menjadikan semua itu menjadi batu loncatan untuk kita boleh lahir menjadi seoramng pemenang setelah mampu melewati banyak rintangan dalam hidup kita .Semoga setelah memahami dengan benar tentang semua yang kami sudah cantumkan dalam makalah ini kita Mahasiswa dan Muda-mudi akan menjadi Pemenang yang sesungguhnya .





       DAFTAR PUSTAKA
American Encylopedia, Motivasi merupakan kecenderungan (sifat pertentangan) dalam diri
Hamalik (1992; 173), Media Pendidikan Bandung: Penerbit Alumni
Makmum (2004),  Psikilogi Kependidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Mulyasa. E.  (2003; 112),  Kurikulum Berbasis Kompetens; Konsep, Karakteristik dan implementasi, (Bandung: PT. Remaja Rosadakarya
Sardiman (2007;73),  Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Bandung: Rajawali Pers
Uno. Hamzah B. 2006, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara)
B, Weiner (1990), History Of Motivational Research In Education. Journal Of Education Psyhology
B, Weiner (1990), History Of Motivational Research In Education. Journal Of Education Psyhology

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI PELATIHAN E-LEARNING - ppt download

MATERI PELATIHAN E-LEARNING - ppt download : Kebutuhan Belajar