Peranan Mahasiswa Pendidikan menjadi motivator bagi
pemuda,masyarakat dalam meningkatkan sikap moral dan kejujuran pemuda menuju
mahasiswa yang unggul dan berdaya saing.
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HKBP
NOMMENSEN PEMATANG SIANTAR
PEMATANGSIANTAR
2020
BAB
1
Latar Belakang
Kita dilahirkan di dunia ini dengan potensi yang besar
untuk menjadi seorang pemenang dalam hidup. Sejak lahir kita dibekali dengan
perlengkapan hidup yang sangat hebat yaitu pikiran,kehendak bebas,dan hati
nurani.Tiga modal tersebut yang harus
kita gunakan kita lakukan dengan benar dan perlu kita kembangkan. Diluar itu
kita perlu memahami bahwa devenisi Pemenang adalah “Tenang ketika mengalami
kegagalan dan tidak panik ketika mengalami kekalahan.Pemenang dalam hidup
adalah pribadi yang berani mengalami kehidupan tidak gentar dalam menghadapi
kesulitan, tidak bergantung pada situasi dan tidak dikalahkan oleh hal-hal yang
negatif .
Memiliki ambisi sebagai pemenang bukan berarti kita harus
menajdi pribadi yang sombong, justru sikap sombong lah yang akan membuat kita
kalah. Sebaliknya kita juga tidak boleh berkecil hati seandai nya saat ini kita
tidak sehebat dan segemilang orang-orang. Untuk menjadi pemenang kita harus
berani keluar dari zaona nyaman,artinya kita harus berani mengambil
resiko, karena semua hal berharga dalam hidup ini harus kita raih dengan
keberanian untuk keluar dari zona nyaman.Kita harus melakukan semua hal yang
dapat meningkat kan kualitas hidup kita. Selalu berfikir positif juga menjadi
suatu hal yg dapat mendorong kita untuk menjadi pemenang. Pikiran memiliki
potensi dan kekuatan yang bisa membangun atau merusak hidup anda ,semua tergantung bagaimana anda mengarahkannya. Untuk itu
arahkanlah selalu pikiran anda untuk memikirkan hal-hal yang mulia, yang benar,
yang adil penting dan membahagiakan. Jangan biarkan diri anda lemah sehingga anda
selalu mengalami kekalahan, berusahala untuk mengembangkan sifat-sifat pemenang rendah hati, berani,
berjiwa besar, dan hindari sifat pengecut menyalahkan orang lain, egois, iri
hati, sombong,
pemarah, suka menunda. Dengan berkomitmen akan hal-hal diatas besar
kemungkinan kita akan benar benar menjadi pemenang.
RUMUSAN MASALAH
1. Kurangnya pemikiran positif pada masyarakat atau pemuda,
yang membuat pemuda atau masyarakat justru menjadi pecundang. Ada perbedaan
mencolok antara orang yang bermental pemenang dan orang yang bermental
pecundang. Yang menjadi masalahnya adalah sebagian orang-orang membedakannya
hanya dari bakat, kemampuan fisik atau kemampuan intelektual, tapi sebenarnya
yang membedakannya adalah mindset atau pemikiran mereka. Bukan semata-mata
hanya dari fisik atau kecerdasan saja.
2. Tidak mempunyai keyakinan yang kuat pada diri mereka,
salah atribut pemenang adalah percaya kepada diri mereka sendiri/kita. Kita
harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita adalah yang terbaik dalam apapun
yang kita kerjakan. Jadi, percaya bahwa kita bisa meraih apapun selama kita mau
berusaha untuk menggapainya. Untuk itu kita harus meyakini bahwa memiliki
kepercayaan diri mampu mendorong kita menjadi pemenang. Tidak mempunyai
keyakinan yang kuat, mental pemenang dalam dirimu tidak akan pernah muncul.
3. Tidak memiliki hasrat
4. Tidak memiliki mental yang kokoh
5. Kurang menguasai pemikiran diri sendiri.
Ini kerap terjadi pada orang-orang karena terpaku pada
kegagalan masalalu. Kita sering memikirkan hal-hal yang memberatkan kita untuk
jadi pemenang, padahal yang seharusnya kita pahami adalah seorang pemenang
tidak akan menginjinkan pembatasan kemampuan diri atau perkataan yang
mematahkan semangat menguasai pikiran mereka.
6.Lebih sering menyerah,Kadang satu masalah atau satu
kegagalan saja dapat merenggut harapan dan impian seseorang dikarenakan
tidak memiliki semangat yang pantang menyerah. Bukan nya semangat eh, malah
menyerah.
7. Kurangnya pemikiran untuk membentuk tim pendukung,
selalu merasa sendiri adalah hal yangharus kita hindari untuk boleh menjadi
pemenang. Tidak peduli apapun pososi kita. Kita memerlukan bantuan dari
oranglain yang dapat memberi sudut pandang yang lebih luas dan pengalaman yang
membantu untuk sukses.
8. Tidak bergaul dengan orang-orang hebat.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang menghambat
seseorang untuk menjadi seorang pemenang.
2. Untuk memberikan dorongan atau suport kepada banyak
orang guna untuk menjadikan seseorang atau masyarakat pemenang.
3. Untuk mengetahui penting nya pikiran-pikiran positif
dalam menjadikan diri kita menjadi pemenang.
4. Untuk membentuk pribadi yang optimis bukan pesimis.
5. Untuk menyampaikan bahwa menjadi pemenang tidak
semudah membalikkan telapak tangan.
6. Untuk membagikan tips-tips menjadi pemenang yang
sebenarnya.
7. Untuk mengajak orang-orang memahami cara pemenang.
8. Mengingatkan bahwa untuk menjadi pemenang kita harus
bergaul juga dengan orang-orang
Yang mempunyai prinsip hidup untuk menjadi pemenang.
9.Mengetahui permasalahanpendidikan moral&kejujuran
dalam masyarakat dan pemuda.
10.Mengetahui pengertian permasalahan pendidikan moral
dan kejujuran dalam masyarakat/pemuda
11.Mengetahui faktor yang memengaruhi permasalahan
pendidkikan moral dan kejujuran dalam meraih kemenangan
12.Meberikan solusi atau pencerahan terhadap permasalahan
pendidikan moral dan kejujuran untuk menjadi seorang pemenang
13.Supaya pemuda atau masyarakat mengetahui moral apa
yang baik .
14.Memberikan gambaran permasalahan pendidikan kejujuran
dan moral serta memberikan jalan keluar .
15.Menambah
wawasan tentang bagaimana upaya untuk membentuk panitia yg tangguh
16.Meningkatkan
kesadaran kita bahwa pemuda memiliki peran dan tanggung jawab besar terhadap
lingkungan
17.Meningkatkan
kesadaran para pemuda untuk mengelola lingkungan dengan baik dan memiliki
kemampuan keterampilan serta moral yang baik
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai batu loncatan kepada pendidikan moral dan
kejujuran yang lebih baik.
2. Menambah wawasan serta pengetahuan pembaca tentang
keadaan pendidikan dan kejujuran masyarakat atau pemuda saat ini untuk menjadi pemenang.
3.Sebagai bentuk apresiasi mahasiswa terhadap masalah
pendidikan yang telah semakin bermoral buruk dan banyaknya kekurangan
4. Untuk mengajak kalangan pemuda dan kalangan masyarakat
bagaimana bermoral baik dan bersikap
jujur dalam kehidupan sehari-hari
5. Bermanfaat untuk mempelajari bagaimana bersikap baik
dan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari.
6. Bermanfaat untuk mempelajari bagaimana bersikap
semangat dan jujur untuk menjadi seorang pemenang
7. Supaya kita menjadi pemuda pemenang yang bermoral dan
jujur dalam segala aspek kehidupan.
8.Supaya masyarakat terkhusus mahasiswa memahami bahwa
untuk menjadi pemenang kita pasti akan mengalami kegagalan tapi tidak menjadi
alasan untuk kita patah semangat
19.Supaya Mahasiswa menjadikan kegagalan sebagai batu
loncatan untuk semakin maju .
BAB
II
1.Peranan
Mahasiswa dikampus
(peran mahasiswa sebagai motivator)
Tema yang saya angkat berkenaan dengan
bagaimana kami sebagai Mahasiswa Universitas Nomensen Pematang Siantar boleh
menjadi motivator dikalangan masyakrakat terkhusus dilingkungan muda-mudi untuk
membentuk pribadi yang berjiwa pemenang. Jadi berbicara tentang menjadi
motivator setiap mahasiswa harus terkebih dahalu mengetahui apa itu motivasi .
Pengertian Motivasi dari berbagai sumber :
Uno
(2007)
Motivasi merupakan dorongan internal dan eksternal dalam diri individu yang
disebabkan adanya minat dan keinginan, dorongan,
kebutuhan, harapan, cita-cita, dan tujuan. Motivasi sendiri merupakan sesuatu yang dapat membuat seseorang melakukan ‘sesuatu’. Seperti yang
diungkapkan oleh Sargent dan dikutip oleh Howard, 199,
“Bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang
dihadapinya,” (Siagian, 2004).
Uno
(2007) v2
Motivasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan internal dan eksternal dalam diri individu yang
diindikasikan dengan adanya keinginan, minat, dan hasrat, dorongan juga kebutuhan; cita-cita dan harapan; serta penghargaan dan penghormatan.
American
Encyclopedia
Motivasi merupakan kecenderungan (sifat pertentangan) dalam diri individu yang
membangkitkan semangat dan dorongan, topangan, dan arahan dalam melakukan suatu tindakan
Hamalik
(1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energy dalam diri atauindividu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam mencapai suatu tujuan.
Hamalik
(1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energy dalam diri atau individu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam mencapai suatu tujuan.
Hamalik (1992; 173)
Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri atau
individu seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan reaksi dalam
mencapai suatu tujuan.
Makmun (2004)
Motivasi merupakan suatu kekuatan, tenaga, daya, dan
keadaan yang kompleks juga kesiapsediaan dalam diri seseorang untuk bergerak ke
suatu tujuan tertentu baik disadari maupun tanpa disadari.
Sardiman (2007; 73)
Motivasi berasal dari kata ‘motif’ yang mana dapat
diartikan sebagai penggerak aktif pada suatu keadaan tertentu, khususnya dalam
suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan yang disarakan dan mendesak.
Mulyasa (2003; 112)
Pengertian motivasi merupakan tenaga pendorong atau
penarik yang menimbulkan adanya tingkah laku ke suatu tujuan tertentu.
Seseorang akan bersungguh-sungguh dan memiliki niat karena suatu keinginan yang
tinggi.
Mc. Donald (dalam Sadirman, 2007; 73)
Motivasi merupakan perubahan energi dalam individu yang
ditandai dengan adanya ‘feeling’ atau perasaan yang didahului dengan adanya
tanggapan terhadap suatu kejadian tertentu.
Azwar (2000; 15)
Motivasi merupakan suatu rangsangan, dorongan, ataupun
pembangun yang terdapat pada seseorang atau sekelompok masyarakat dalam berbuat
dan bekerjasecara optimal dalam melakukan sesuatu yang sudah direncanakan dalam
mencapai tujuan tertentu yang sudah ditetapkan.
Victor H. Vroom
Motivasi merupakan suatu akibat dari suatu hasil yang
ingin diraih atau digapai oleh suatu individu dan juga suatu perkiraan yang
dilakukannya itu benar dan dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.
Malayu (2005;143)
Motivasi berasal dari kata ‘movere’ yang berarti dorongan
atau pemberian daya penggerak yang dapat memunculkan gairah dan semangat
tindakan individu agar mereka dapat bekerjasama, kerja efektif, dan
terintegrasi dengan segala daya upayanya dalam mencapai kepuasannya.
Weiner (1990)
Motivasi dapat didefinisikan sebagai bentuk keadaan dan
kondisi internal yang dapat memunculkan seseorang untuk melakukan tindakan,
mendorong untuk mencapai tujuan tertentu juga dapat membuat individu tertarik
untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Victor H. Vroom
Motivasi merupakan suatu akibat dari suatu hasil yang
ingin diraih oleh suatu individu dan suatu perkiraan yang dilakukannya dapat
mengarah kepada suatu keinginannya.
G. R. Terry (dalam Malayu, 2005: 145)
Motivasi merupakan suatu kegiatan yang ada pada diri
individu yang dapat memberikan rangsangannya dalam melakukan suatu tindakan.
Edwin B Flippo : Motivasi merupakan suatu keahlian yang dapat mengarahkan
suatu individu atau kelompok agar dapat melakukan suatu tindakan yang optimal,
sehingga individu atau kelompok tersebut dapat mencapai tujuan yang
diinginkannya.
G.R.Terry
Motivasi merupakan suatu keinginan yang ada pada diri
individu yang dapat merangsangnya untuk melakukan suatu tindakan.
Robbin dan Judge
Motivasi merupakan suatu proses yang menjelaskan
intensitas, ketekunan, dan arah seseorang agar dapat mencapai tujuan dan target
keinginannya.
Mulyasa (2003; 112)
Motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang
dapat menyebabkan timbulnya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.
Seseorang akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi.
Seseorang akan belajar jika ada faktor pendorongnya yang disebut sebagai
motivasi.
Morgan et al (dalam Marwansyah dan Mukaram, 2000; 151)
Motivasi merupakan kekuatan yang dapat mengendalikan dan
menggerakkan individu dengan memberikan arah pada suatu perilaku dan sikap dengan
dasar kecenderungan untuk menunjukan perilaku tersebut.
Edwin B. Flippo
Motivasi merupakan suatu keahlian dalam mengarahkan
seseorang dan kelompok agar dapat melakukan suatu tindakan agar berhasil,
sehingga individu atau kelompok tersebut dapat melakukan suatu hal dengan
tujuan yang ingin digapai.
Disini, tujuan yang kami maksud adalah menjadi pemenang
dalam banyak hal positif. Dorongan yang akan kami berikan bisa berbentuk :
1). Antusiasme
2). Berpengharapan
3). Semangat
4). Percaya diri
dan optimis
Kita bisa melakukanbanyak hal setiap harinya senantiasa
dibayangi oleh adaya motivasi. Memberikan motivasi adalah menyalakan kembali
api motivasi didalam diri seseorang supayakembali bersemangat dan menjadi
diri sendiri, memiliki keberanian dan pantang menyerah untuk melakukan sesuatu
dengan cara tertentu. Kemampuan untuk memberikan motivasi adalah sebuah keterampilan yang
bisa oleh siapa saja. Manusia ibarat sebuah gunung es yang tertutup oleh
samudera,yang terkadang perlu diingatkan bahwa kadang yang terlihat adalah
kekurangan (potongan es diatas air) namun keunggulannya tidak kelihatan karena
masih dibawah permukaan air. Salah satu cara memperlihatkan potongan es yang besar
itu adalah memvberikan motivasi kepada orang-orang banyak. Untuk menjadi
seorang motivator yang nyata mahasiswa terlebih dahulu harus memotivasi diri
sendiri, karna memotivasi diri sendiri adalah hal yang pokok sebelum kita
memotivasi orang lain. Kita (mahasiswa) harus
menciptakan suasana dan keteladanan yang dapat menjadi bahan bakar kita untuk
membakar oranglain. Para
motivator ulung adalah orang-orang yang dihormati atas keberhasilan mereka
sebelumnya. Mahasiswa akan menjadi motivator sebenarnya adalah ketika kita
memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a). Positif
b). Rasa berterimakasih kepada orang-orang terbaik yang
bekerjasama dengan kita
c). Menyadari pentingnya harga diri
Yang kemudian mahasiswa harus memiliki kecerdasan emosi,
karena kecerdasan emosi adalah dasar bekerjasama dan berkomunikasi baik dengan
diri sendiri maupun oranglain. Kecerdasan emosi mencakup pengelolan emosi diri
sendiri maupun oranglain. Memiliki empati juga adalah hal yang harus dimiliki
oleh seorang mahasiswa, artinya dengan berusaha menempatkan diri menjadi oranglain,
ide-ide untuk memotivasi orang akan lebih tajam karena kita melihat dengan
pandangan kita sendiri bukan dengan pandangan oranglain. Agar benar-benar
menjadi seorang motivator,mahasiswa perlu memahami beberapa hal berikut :
1). Mengharapkan yang terbaik dari orang yang anda pimpin
Sebagai seorang motivator, anda harus membantu
orang-orang untuk mencapai keberhasilan sehingga mereka dapat memberikanhasil
yang terbaik kepada anda, harus sealalu mengingatkan yang kita motivasi bahwa
dia atau mereka memiliki potensi tersembunyi dan keinginan untuk melihat mereka
berhasil.
2). Menetapkan standar keunggulan yang tinggi
Prinsip ini merupakan prinsip pendahuluan dimana rencana
motivasi yag baik haruslah dirancang dengan melihat keinginan/hasrat mereka
saat ini bukan berdasarkan motivator itu sendiri. Jangan menganggap bahwa orang
lain memiliki kebutuhan yang sama dengan anda.
3). Menetapkan standar keunggulan yang tinggi
Artinya mendorong seseorang untuk mencapai target atau
nilai tertentu standar keunggulan juga merupakan budaya/kebiasaan yang
menjunjung tinggi prestasi tertentu. Memiliki keunggulan yang tinggi merupakan
kebanggaan tersendiri bagi seseorang yang mampu meraihnya
4). Menciptakan suasana dimana kegagalan bukan sesuatu
yang fatal
Motivator yang tulus akan selalu mengingatkan bahwa
kegagalan bukan berarti dari segalanya. Tidak ada manusia yang tidak perna gagal tetapi hanya sedikit yang mampu
bangkit dari kegagalannya dan yang mampubangkitlah yang akan mencapai
kesuksesan. Seorang motivator tidak akan mengumumkankegagalan seseorag tetapi
hanya keberhasilan yang dicapai. Mahasiswa boleh memberikan contoh-contoh orang
berhasil didunia dengan berkali-kali kegagalan, yang dapat memberikankita
berbagaimacam motivasi diantaranya :
a). THOMAS ALFA EDISON
b). ABRAHAM LINCOLN
c). WINSTON CURALL
d). Ir. SOEKARNO ( presiden Ri )
5). Jika mahasiswa mengharapkan seseorang untuk melakukan
apa yang diinginkan, maka topanglah rencananya yang mengarah tujuan itu
Prinsip yang kelima ini mengajarkan seseorang mahasiswa
menjadi motivator yang seantiasa mendukug orang lain untuk melakukan apa yang
motivator tersebut (kita) inginkan, mugkin sepintas akan terlihat seorang
motivator (mahasiswa) memperalat seseorang, akan tetapi sebenarnya adalah bukan
demikian.
Contoh : Seorang ayah menghendaki anaknya supaya menjadi
petenis profesional, berjuag sejak anaknya masih kecil. Sang ayah menjadi
motivator memancig minat dan menggali bakat tenis dari anaknya sendiri,
menemaninya berlatih dan bertanding terus menerus dan sampai anaknya berhasil
menjadi petenis profesional. Tidak hanya itu, ia juga mendorong anaknya
memberikan semangat dan membesarkan anak-anak nya dengan mengejar capaian hidup
semaksimal mungkin.
(Ayah sebagai motivator buat sianak
dalam mengasah kemampuan nya sebagai pemain tenis profesional)
6) Pakailah keteladanan untuk merangsang keberhasilan
Untuk membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu,
menuntut kita sendiri yang harus memberi contoh agar dia melakukannya, cerita
mengenai kerja keras ada keberhasilan dapat membuat seseorang menjadi yakin
karena cerita-cerita tersebut langsung mengena ke hati yang menggetarkan dan
mengubah sikap kita.
7). Kenalilah dan berikan pujian atas prestasi
Sebuah pujian adalah penguatan secara positif dalam
psikologi. Berikanlah pujian secara langsung dan dapat diketahui juga oleh
orang banyak. Dalam hal ini kita juga harus memahami bahwa manusia adalah
mahluk yang haus akan pujian atas prestasi yang telah mereka capai.
8). Pergunakanlah perpaduan antara yang positif dan negatif
Pergulatan positif adalah pujian, penghargaan, kasih dan
lain-lain, sedangkan pergulatan negatif adalah teguran, hukuman, amarah, dan
lain-lain. Kedua pergulatan ini adalah dua hal yang saling bertolak
belakang,tetapi sama-sama merupakan cara untuk memotivasi orang, seorang
motivator harus jeli menggunakan yang positif dan negatif memotivasi oranglain. Dalam situasi tertentu motivator
bisa saja bertindak keras, tetapi tetap bertindak adil sehingga seseorang bisa
memahami nilai-nilai yang ditanamkan dan tidak asal melihat hukumannya saja,
tetapi kita disini menganjurkan akan lebih baik jika lebih banyak mengeluarkan
pujian dibandingka hukuman atau teguran.
Persaingan tidak terlalu efektif apabila terus-menerus
dilakukan karena bisa menciptakan kompetisi yang tidak sehat, gunakanlah
persaingan untuk memberikan inspirasi dan memacu semangat yang memotivasi bukan
hanya media untuk melemparkan kritik.
10). Upayakanlah kerjasma
Kerjasama disini berarti bukanlah sesuatu secara
bersama-sama kebersamaaan membangkitkan motivasi yang luarbiasa karena semakin
banyakyang menemani maka semakin kuat tekad yang timbul serta lebih berani dan
percaya diri.
(Kerjasama antar Mahasiswa Sehingga
Masalah Mudah di Atasi)
11). Upayakan agar didalam kelompok ada peluang untuk
melawan
Sewaktu memimpin sebuah kelompok yang memiliki beberapa
orang anggota dengan sifat melawan, seorang pemimpin sekaligus mahasiswa
(sebagai motivator) tidak selalu menganggap kehadiran seseorang pemberontak akan mematikan
niat kita sebagai motivator mereka.
12.Usahakan
lah agar motivasi anda tetap tinggi
Beberapa
cara seorang motivator dapat memotivasi dirinya sendiri adalah :
a.Bergaulah
dengan orang-orang yang berhasil dan berpikiran positif
b.Awasi
gagasan-gagasan yang masuk
c.Manfaatkan
sumber informasi
d.Tingkatkanlah
kemampuan dan keterampilan dengan mengikuti kursus/seminar
e.Tingkatkan
spritualitas
Dalam
menempatkan diri sebagai motivator mahasiswa harus paham bentuk-bentuk
motivasi,antara lain:
1. Tegura atau Kritik
Menegur
berarti mengingatkan bila seseorang tidak mencapai standar agar dia dapat
mencoba kembali mencapai standar tersebut. Di dalam menegur, seorang motivator
harus dapat memperlihatkan kesalahan apa yang terjadi, memiliki cukup fakta dan
disertai perasaan sang motivator, apakah marah, tersinggung ataupun frustasi.
Mengkritik adalah sebuah tindakan yang sulit kalau kita melihat prinsip-prinsip berkomunikasi yang diungkapkan oleh Dale Carnegie, yaitu jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh sebaliknya berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Jadi sebisa mungkin jangan menyampaikan kritik, tetapi berikan saran-saran berharga yang membangun.
Mengkritik adalah sebuah tindakan yang sulit kalau kita melihat prinsip-prinsip berkomunikasi yang diungkapkan oleh Dale Carnegie, yaitu jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh sebaliknya berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Jadi sebisa mungkin jangan menyampaikan kritik, tetapi berikan saran-saran berharga yang membangun.
2. Amarah
Amarah
adalah emosi yang digunakan oleh pembicara-pembicara untuk memukau pendengarnya.
Amarah seorang jenderal digunakan untuk membangkitkan kemarahan seluruh
tentaranya untuk membangkitkan semangat juang seluruh tentaranya. Amarah
seorang manajer untuk menegaskan kembali standar keunggulan mutu perusahaan.
3. Tantangan
Adalah
target yang tidak mustahil untuk dilakukan dengan melihat
keterbatasan-keterbatasan yang ada. Tantangan yang realistis mampu
membangkitkan antuasisme dari staff / tim untuk memberikan performa terbaik
yang semakin baik lagi.
4.Kecacatan tubuh
Di
dalam buku-buku banyak yang mengisahkan orang-orang cacat yang berhasil berjaya
di bidangnya. Sebagai contoh Andrea Bocelli, penyanyi suara tenor yang sangat
terkenal meskipun tidak dapat melihat. Setelah memperoleh keberhasilan, mereka
tidak tinggal diam tetapi selalu memotivasi orang lain apalagi yang mengalami
cacat tubuh untuk terus berusaha mencapai keberhasilan dan tidak selalu melihat
kekurangan yang mereka miliki.
5. Kepercayaan dan tanggung jawab
Buatlah
orang tersebut merasa penting dan dibutuhkan oleh orang lain serta diperhatikan
oleh orang lain termasuk Anda.
Secara umum, beberapa orang akan terpengaruh untuk berusaha jika diberikan tanggung jawab karena tanggung jawab adalah wujud otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, memberikan tanggung jawab berarti memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membuktikan kemampuannya.
Secara umum, beberapa orang akan terpengaruh untuk berusaha jika diberikan tanggung jawab karena tanggung jawab adalah wujud otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, memberikan tanggung jawab berarti memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membuktikan kemampuannya.
6. Materi
Memberikan
materi adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (Teori Maslow). Materi
dapat berupa gaji yang pantas, fasilitas, kendaraan, rumah, dan lain
sebagainya.
Motivasi di
berbagai bidang :
Olahraga
Motivasi
berupa latihan mental, khususnya kepada pemain-pemain muda untuk membentuk
kepercayaan diri, keyakinan dan target untuk menjadi juara. Motivasi merupakan
faktor nonteknis yang menentukan kondisi mental atlet di samping faktor
nonteknis. Di dalam sebuah pertandingan, kehadiran pendukung memberikan
keuntungan besar kepada atlet yang didukungnya.
Perusahaan
Secanggih
apa pun pengetahuan dari pemimpin puncaknya, dalam titik tertentu keberhasilan
ditentukan oleh berapa besar motivasi kerja dari seluruh karyawan dari
perusahaan tersebut. Motivasi kerja tersebut ditunjukkan dengan penampilan yang
prima untuk perusahaan.
Ketentaraan
Dalam
setiap pertempuran, kehadiran seorang pemimpin perang yang disegani memberikan
motivasi tempur yang tinggi kepada setiap tentara yang dipimpinnya.
Penutup
Dengan menjadi seorang motivator, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan seperti kerja sama tim, jiwa kepemimpinan dan motivasi diri yang lebih kuat.
Seseorang yang memberikan motivasi kepada teman-teman, kerabat, rekan kerja membuat dunia ini akan menjadi tempat hidup yang lebih baik
Dengan menjadi seorang motivator, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan seperti kerja sama tim, jiwa kepemimpinan dan motivasi diri yang lebih kuat.
Seseorang yang memberikan motivasi kepada teman-teman, kerabat, rekan kerja membuat dunia ini akan menjadi tempat hidup yang lebih baik
Ciri-Ciri
Motivasi
Menurut
Sardiman, ada beberapa ciri dari motivasi:
1.
Rajin dalam melakukan tugas / kegiatan tertentu
2. Tidak putus asa saat menemukan kesulitan
3. Menunjukkan minat untuk menghadapi masalah yang muncul saat melakukan tugas tertentu
4. Lebih suka melakukan tugas tersebut secara pribadi
5. Berusaha mempertahankan hal yang sudah ia yakini
2. Tidak putus asa saat menemukan kesulitan
3. Menunjukkan minat untuk menghadapi masalah yang muncul saat melakukan tugas tertentu
4. Lebih suka melakukan tugas tersebut secara pribadi
5. Berusaha mempertahankan hal yang sudah ia yakini
Fungsi
Motivasi
Fungsi
Motivasi
Menurut
Sardiman, motivasi memiliki tiga fungsi yaitu:
1.
Mendorong manusia untuk bergerak atau melakukan sesuatu
Bisa
dibilang motivasi merupakan hal yang menggerakan seseorang untuk mengerjakan
suatu kegiatan.
2.
Menentukan arah perbuatan
Dengan
kata lain, motivasi mengarahkan kita agar bisa mencapai tujuan yang kita
inginkan.
3.
Menyeleksi perbuatan
Motivasi
juga membantu menentukan hal-hal / tindakan apasaja yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan. Sebagai contoh siswa yang termotivasi untuk mendapat nilai
bagus tentu akan menghabiskan waktunya dengan belajar dan bukannya bermain
ponsel selama berjam-jam.
Tujuan
Motivasi
Menurut
Hasibuan, tujuan motivasi di kalangan karyawan adalah sebagai berikut:
1.
Untuk memberi dorongan atau semangat pada rekan kerja / bawahannya.
2.
Membuat karyawan lebih produktif saat bekerja
3.
Membuat karyawan loyal dan mau tetap bertahan dalam perusahaan
4.
Membuat karyawan lebih disiplin sehingga mengurangi jumlah karyawan yang sering
absen
5.
Menciptakan hubungan kerja dan suasana kerja yang lebih baik
6.
Membuat karyawan lebih kreatif dan mau berpartisipasi dalam kegiatan kantor.
7.
Membuat karyawan lebih bertanggung jawab atas tugas-tugas yang ia miliki.
Jenis-Jenis
Motivasi
Secara
umum, motivasi dibagi menjadi dua jenis:
1.
Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini muncul karena adanya dorongan
dari dalam diri seseorang. Contoh dari motivasi intrinsik misalnya seorang anak
termotivasi untuk membaca buku pelajaran, padahal tidak ada orang yang menyuruh
atau memotivasinya untuk membaca.
(Buku adalah jendela dunia)
2.
Motivasi Ekstrinsik
Berbeda dengan motivasi intrinsik, motivasi
ektrinsik ini muncul karena adanya faktor luar (faktor eksternal). Sebagai
contoh seorang anak mendadak rajin belajar bahasa Inggris karena tahu kalau
besok akan ada ujian. Dalam kasus ini, bisa dikatakan ia termotivasi untuk
belajar karena faktor eksternal, yaitu faktor agar bisa memperoleh nilai bagus
dan dipuji oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sedangkan
menurut Lifemojo, ada tujuh jenis motivasi yaitu:
1.
Motivasi prestasi
Orang
yang memiliki jenis motivasi prestasi akan berorientasi pada tujuan yang ingin
ia capai. Ia akan menetapkan target dan melakukan sejumlah hal demi meraih
target yang telah ia tentukan tersebut.
2.
Motivasi peningkatan diri
Motivasi
peningkatan diri adalah motivasi untuk mencapai keinginan pribadi yang berasal
dari dalam diri manusia (tidak dipengaruhi oleh orang luar). Jenis motivasi ini
sangat penting dalam kehidupan seseorang karena bisa membantu mencapai
kesuksesan, baik itu soal pekerjaan ataupun kehidupan pribadi.
3.
Motivasi ektrinsik
Motivasi
ini bisa timbul dalam bentuk positif sekaligus negatif.
4.
Motivasi takut
Tahukah
kamu, kalau rasa takut pada suatu hal juga bisa menjadi salah satu motivasi.
Misalnya kamu takut kecelakaan saat sedang mengemudi. Hal ini akan memotivasimu
untuk mengemudi dengan hati-hati dan selalu mengutamakan keselamatan dalam hal
berkendala.
5.
Motivasi investasi
Artinya
manusia termotivasi untuk berkomitmen dalam melakukan suatu tugas dengan baik.
Sebagai contoh, wanita yang bermimpi menjadi penyanyi harus memiliki komitmen
tinggi untuk mencapai impiannya. Ia harus bekerja keras seperti berlatih
menyanyi secara rutin, les vokal, ikut perlombaan menyanyi, dan lain sebagainya.
6.
Motivasi sosial
Ada
juga orang yang menganggap kehidupan sosial sebagai salah satu motivasi dalam
dirinya. Ia akan berusaha dan melakukan sejumlah hal agar dirinya bisa diterima
dalam sekelompok orang yang mereka kagumi.
7.
Motivasi sikap
Contoh
motivasi sikap adalah dengan mencoba berpikir positif. Meski terkesan sepele,
berpikir positif sebenarnya sangat penting untuk dilakukan karena bisa
membantumu mencapai tujuan hidupmu. Maka dari itu, cobalah menanamkan sikap
positif mulai sekarang. Secara tidak sadar, kamu akan termotivasi untuk meraih
apa yang kamu inginkan
Setelah
Mahasiswa memahami dan melakukan hal-hal diatas,kita akan menjadi Mahasiswa
sekalugus motivator dan melalui kita akan banyak orang yang semakin bersemangat
untuk menjadi seorang pemenang yang sesungguhnya.
Seseorang
yang memberikan motivasi kepada teman-teman,kerabat,membuat dunia akan menjadi
tempat hidup yang lebih baik .
2.Konsep Teori Moral
(Permisi
kepada orang yang lebih tua adalah bentuk moral)
B. Perkembangan Moral
Menurut Elizabeth Hurock
1. Arti
perilaku moral
Perilaku
moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. “moral”
berasal dari kata latin mores, yang berarti tata cara kebiasaan, dan adat.
Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral. Peraturan perilaku yang telah
menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku
yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Perilaku
tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku demikian
tidak disebabkan ketidakacuhan akan harapan sosial melainkan ketidaksetujuan
dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
Perilaku
amoral atau non moral lebih disebabkan ketidak acuhan terhadap harapan kelompok
sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa
diantara perilaku salah anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.
Perilaku
yang dapat disebut “moralitas yang sesunggunya” tidak saja sesuai dengan
standar sosial melainkan juga dilaksanakan secara suka rela yang muncul. Ia
muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan eksternal ke internal dan terdiri
atas tingkah laku yang diatur dari dalam, yang disertai perasaan tanggung jawab
pribadi untuk tindakan masing-masing. Perkembangan moral mempunyai aspek
kecerdasan dan aspek impulsif. Anak harus belajar apa saja yang benar dan apa
saja yang salah. Selanjutnya, segera setelah mereka cukup besar, mereka harus
diberi penjelasan mengapa ini benar dan itu salah. Mereka juga harus mempunyai
kesempatan untuk mengambil bagian dalam kegiatan kelompok sehingga mereka dapat
belajar mengenai harapan kelompok.
2. Bagaimana
Moralitas Dipelajari
Pada saat
lahir tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya,
tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau non moral.
Minat
psikologi pada perkembangan awalnya dipusatkan pada disiplin-yaitu jenis
disiplin yang terbaik untuk mendidik anak menjadi individu yang mematuhi hukum
dan pengaruh disiplin tersebut pada penyesuaian pribadi dan sosial.
Teori
terbaik dan yang paling berpengaruh ialah teori Piaget dan teori Kohlberg.
Penemuan pasangan Gluecks yang pertama ialah bahwa kenakalan remaja bukan
fenomena baru dari masa remaja melainkan suatu lanjutan dari pola perilaku
asosial yang mulai pada masa kanak-kanak.Penemuan kedua ialah bahwa terdapat
hubungan yang erat antara kenakalan remaja dan lingkungan, terutama lingkungan
rumah.
3. Perilaku Moral
Perilaku
yang sesuai kode moral kelompok sosial. Moral berasal dari kata
latin ‘mores’, yang berarti tatacara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral
dikendalikan konsep-konsep moral-peraturan perilaku yang telah menjadi
kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang
diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
4. Perilaku Tak
Bermoral
Perilaku
yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Tidak disebabkan ketidakacuhan akan
harapan sosial melainkan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang
adanya perasaan wajib menyesuaikan diri.
5. Perilaku Amoral
Lebih disebabkan
ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran sengaja
terhadap standar kelompok. Beberapa diantara perilaku salah anak kecil lebih
bersifat amoral daripada tak bermoral.
Moralitas
yang sesungguhnya tidak saja sesuai dengan standar sosial tapi juga
dilaksanakan secara sukarela. Ia muncul bersamaan dengan peralihan kekuasaan
eksternal ke internal dan terdiri atas tingkah laku yang diatur dari dalam,
yang disertai perasaan tanggung jawab pribadi untuk tindakan masing-masing.
6. Perkembangan
moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif.
Reaksi menyenangkan dengan hal yang
benar dan reaksi yang tidak menyenangkan dengan hal yang salah.
Dalam mempelajari sikap moral,
terdapat 4 aspek pokok utama:
a. Mempelajari
apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana dicantukan
dalam hukum, kebiasaan dan peraturan.
Peraturan dan hukum itu berbeda :
1) Peraturan
dibuat oleh orang yang bertanggung jawab mengasuh anak. Hukum dibuat oleh
pembuat hukum yang dipilih oleh suatu negara.
2) Hukum
menentukan hukuman menurut keinginan/tingkah orang yaang mengawasi anak
tersebut.
3) Jika
orang belajar tentang hukum atas pelanggarannya.
4) Beratnya
hukuman atas pelanggaran hukum bervariasi dengan beratnya tindakan yang
dilakukan.
5) Hukum
lebih seragam dan lebih konsisten dibandingkan dengan peraturan.
Peraturan befungsi sebagai pedoman
perilaku anak dan sebagai sumber motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan
sosial, sebagaimana hukum dan kebiasaan menjadi pedoman dan sumber motivasi
bagi anak remaja dan orang dewasa.
b. Mengembangkan
hati nurani
Dengan hati nurani dalam
perkembangan moral adalah sebagai kendali internal bagi perilaku individu.
Sekarang telah diterima secara luas
bahwa tidak seorang anak pun dilahirkan dengan hati nurani dan bahwa setiap
anak saja harus belajar apa yang benar dan yang salah tetapi juga harus
menggunakan hati nurani sebagai pengendali perilaku dan ini sebagi salah satu
tugas perkembangan yang penting dalam masa kanak-kanak.
c. Belajar
mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai
dengan harapan kelompok.
Rasa bersalah: Sejenis evaluasi diri
khusus yang negatif yang terjadi bila seorang individu mengakui bahwa
perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi.
Ada empat kondisi yang harus
dipenuhi sebelum rasa bersalah dialami:
1) Anak-anak
harus menerima standar tertentu mengenai hal yang benar dan yang salah atau
“baik” dan “buruk” sebagai standar mereka.
2) Mereka
harus menerima kewajiban mengatur perilaku mereka agar sesuai dengan standar
yang telah merekan terima.
3) Mereka
harus merasa bertanggung jawab atas setiap penyelewengan dari standar tersebut
dan mengaku bahwa mereka, dan bukan orang lain, yang harus disalahkan.
4) Mereka
harus memiliki kemampuan mengkritik diri yang cukup besar untuk menyadari bahwa
suatu ketidaksesuaian antara perilaku mereka dan standar internal perilaku
telah terjadi.
Rasa malu: Reaksi emosional yang tidak
menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaian negatif
terhadap dirinya. Penilaian ini yang belum tentu benar-benar ada, mengakibatkan
rasa rendah diri terhadap kelompoknya.
Rasa malu hanya bergantung pada
sanksi eksternal saja, walaupun ia mungkin disertai rasa bersalah. Rasa
bersalah bergantung pada sanksi internal dan eksternal.
Rasa bersalah merupakan salah satu
mekanisme psikologis yang paling penting dalam proses sosialisasi. Ia juga
merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup budaya karena ia merupakan
penjaga yang paling efisien di dalam diri tiap individu, dan menjaga
keselarasan perilaku individu dengan nilai moral masyarakatnya.
d. Mempunyai
kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota
kelompok.
Peranan penting interaksi sosial
pada perkembangan moral:
1) Dengan memberi
anak standar perilaku yang disetujui kelompok sosialnya.
2) Dengan memberi
mereka sumber motivasi untuk mengikuti standar tersebut melalui persetujuan dan
ketidaksetujuan sosial.
Anak yang berinteraksi sosial dengan
anak lain yang kode moralnya sesuai dengan kode di rumah, di sekolah dan
masyarakat luas akan meletakkan dasar bagi perilaku moral yang akan mengarah ke
penyesuaian dan begitu juga sebaliknya. Jenis teman bermain jauh lebih penting
dibandingkan dengan jumlahnya.
Perkembangan moral bergantung dari
perkembangan kecerdasan.Pada waktu perkembangan kecerdasan mencapai tingkat
kematangannya, perkembangan moral juga harus mencapai tingkat
kematangannya.Jika tidak, maka individu akan dianggap sebagai orang yang “tidak
matang secara mental”.
7. Tahapan Piaget
dalam perkembangan moral
Terjadi dalam dua tahap:
a. Tahap
realisme moral/moralitas oleh pembatasan
Perilaku anak ditentukan oleh
ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran/penilaian.Anak menilai
tindakan sebagai “benar” atau “salah” atas dasar konsekuensinya dan bukan
berdasarkan motivasi di belakangnya serta sama sekali mengabaikan tujuan
tindakan.
b. Tahap
Moralitas Otonomi/Moralitas Oleh Kerja Sama/Hubungan Timbal Balik
Anak menilai perilaku atas dasar
tujuan yang mendasarinya.Berlangsung dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan
berlanjut hingga usia 12 dan lebih.Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu
yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.
8. Tahapan Kohlberg
Kohlberg telah melanjutkan
penelitian Piaget dan telah menguraikan teori Piaget secara terperinci
a. Tingkat I:
Moralitas Prakonvensional
Anak berorientasi pada kepatuhan dan
hukuman, dan moralitas suatu tindakan dinilai atas dasar akibat fisiknya.
b. Tingkat
II: Moralitas Konvensional
1) Tahap Pertama:
Moralitas anak yang baik anak itu menyesuaikan dengan peraturan untuk mendapat
persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan baik dengan mereka.
2) Tahap kedua:
Anak yakin bahwa bila kelompok social menerima peraturan yang sesuai bagi
seluruh anggota kelompok, mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar
terhindar dari kecaman dan ketidaksetujuan social.
c. Tingkat
III: Moralitas Pascakonvensional/Moralitas prinsip-prinsip yang diterima
sendiri
1) Tahap Pertama:
Anak yakin bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinan-keyakinan moral yang
memungkinkan modifikasi dan perubahan standar moral bila ini terbukti akan
mengumpulkan kelompok sebagai suatu keseluruhan.
2) Tahap Kedua:
Orang menyesuaikan dengan standar social dan cita-cita internal terutama untuk
menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan untuk menghindari
kecaman sosial.
9. Fase
perkembangan moral
a. Perkembangan
perilaku moral
1) Coba Ralat
Dengan mencoba suatu pola perilaku
yang memenuhi standar sosial dan mendapat persetujuan sosial. Jika tidak,
mereka akan menggunakan metode lain secara kebetulan. Menghabiskan waktu dan
tenaga dengan hasil akhir yang tidak memuaskan.
2) Pendidikan
Langsung
Memberi reaksi yang tepat dalam
situasi tertentu.
3) Identifikasi
Mengidentifikasi dengan orang yang
dikaguminya, mereka meniru pola perilaku orang tersebut, secara tidak sadar dan
tanpa tekanan.
b. Perkembangan Konsep Moral
Fase belajar tentang konsep moral,
atau prinsip-prinsip benar dan salah dalam bentuk abstrak dan verebalitas.
Harus menunggu hingga anak telah mempunyai kemampuan mental untuk membuat
generalisasi dan mentransfer prinsip tungkah laku dari satu situasi ke situasi
yang lain.
10. Disiplin
a. Disiplin=Hukum
Disiplin
adalah cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok
agar anak berperilaku sesuai dengan standar kelompok sosial, tempat mereka
diidentifikasi. Konsep positif disiplin: Menekankan pertumbuhan di dalam,
disiplin diri, dan pengendalian diri.
Disiplin
negative: Memperbesar ketidakmatangan individu. Disiplin positif: Menumbuhkan
kematangan. Fungsi pokok disiplin: Mengajar anak menerima pengekangan yang
diperklukan dan membantu mengarahkan energi anak kedalam jalur yang berguna dan
diterima secara sosial.
Kondisi yang mempengaruhi kebutuhan
anak akan disiplin:
1) Terdapat variasi
dalam laju perkembangan berbagai anak, tidak semua anak yang usianya sama
mempunyai kebutuhan akan disiplin yang sama.
2) Kebutuhan akan
disiplin bervariasi menurut waktu dalam sehari
3) Kegiatan yang
dilakukan anak.
4) Disiplin paling
besar kemungkinannya dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari yang rutin, misalnya
makan, tidur, atau membuat pekerjaan rumah.
5) Kebutuhan akan
disiplin bervariasi dengan hari dalam seminggu.
6) Disiplin lebih
sering dibutuhkan dalam keluarga besar daripada keluarga kecil.
7) Kebutuhan akan
disiplin bervariasi dengan usia
8) Anak yang lebih
besar kurang membutuhkan disiplin dibandingkan anak kecil.
b. Menanamkan
Disiplin
Di masa lampau hanya terdapat satu
cara menanamkan disiplin yang disetujui,. Sekarang cara itu disebut disiplin
otoriter, disiplin permisif, dan disiplin demokratis.
1) Cara
mendisiplin otoriter
Peraturan
dan peraturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan menandai
semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang berat bila
terjadi kegagalan memenuhi standar dan sedikit, atau sama sekali tidak adanya
persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak memenuhi
standar yang diharapkan.
Disiplin
otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan ekternal dalam bentuk
hukuman. Bahkan setelah anak bertambah besar, orang yang kaku jarang
mengendurkan pengendalian mereka atau menghilangkan hukuman badan. Tambahan
pula, mereka tidak mendorong anak untuk dengan mandiri mengambil
keputusan-keputusan yang harus dilakukan, dan tidak menjelaskan mengapa hal itu
harus dilakukan. Jadi, anak-anak kehilangn kesempatan untuk belajar bagaimana
mengendalikan perilaku mereka sendiri.
2) Cara mendisiplin
yang permisif
Disiplin
permisif sebetulnya berarti sedikit disiplin atau tidak berdisiplin. Biasanya
disiplin permisif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara
social dan tidak menggunakan hukuman.
3) Cara mendisiplin
demokratis
Metode
demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak
mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan
aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya.
Disiplin
demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan penekanan yang lebih
besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk
hukuman badan. Hukuman dilakukan apabila terdapat bukti bahwa anak dengan sadar
menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak sesuai
dengan apa yang orang tua harapkan maka anak tersebut akan mendapatkan
penghargaan dalam bentuk pujian.
Falsafah
yang mendasari disiplin demokratis ini adalah falsafah bahwa disiplin bertujuan
mengajar anak mengembangkan kendali atas perilaku mereka sendiri sehingga
mereka akan melakukan apa yang benar, meskipun tidak ada penjaga yang mengancam
mereka dengan hukuman bila mereka melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan.
4) Evaluasi cara
mendisiplin
Walaupun
disiplin otoriter dalam bentuk paling keras lebih merusak anak pada waktu–waktu
tertentu selama pola perkembangan dibandingkan dengan saat yang lain, disiplin
ini selalu meninggalkan bekas pada perilaku anak. Orang tua yang terlalu keras,
yang menggunakan metode yang kasar dan menghukum untuk mencapai tujuan mereka,
mungkin dapat membuat anak mematuhi standar mereka dan menjadi anak yang baik .
Namun, walaupun di permukaan semuanya tampak baik, di bawahnya mungkin
tersimpan rasa permusuhan yang akan meledak keluar pada waktunya. Anak lalu
akan melakukan banyak hal yang dalam suasana lain tidak akan dilakukannya.
Pengaruh
yang paling penting dari disiplin yang terlalu lunak berasal dari reaksi orang
luar rumah, disekolah, atau lingkungan sekitarnya.disiplin demokratis
menumbuhkan penyesuayan pribadi dan sosial yang baik dan menghasilkan
kemandirian dalam berperilaku yang sehat positif dan dan penuh rasa percaya.
5) Evaluasi
disiplin
Disiplin
tidak boleh dievaluasi berdasarkan hasil langsungnya dan juga tidak boleh
dievaluasi dengan melihat perilaku moral anak itu saja. Walupun anak itu dapat
dipaksa menurut pola perilaku yang disetujui orang dewasa dan dijadikan anak
yang sempurna.
Havighurst telah memperingatkan
bahwa beberapa fungsi disiplin yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat.
6) Kerteria
disiplin yang bermanfaat
Ada
kerteria yang dapat digunakan untuk mengefaluasi disiplin. Bila evaluasi
positif untuk tiap kerteria, hal ini menunjukan bahwa disiplin yang digunakan
telah memenuhi fungsinya dan bahwa disiplin itu boleh di anggap sehat atau
baik.
Kerteria
pertama pengaruh pada perilaku,tidak seorang pun dapat mengharap seorang
anak, remaja, ataupun orang dewasa untuk bersikap dengan cara yang di setujui secara sosial pada segala waktu dan dalam semua situasi .akan tetapi bila anak’’
menunjukan kemajuan yang progresif dalam perilaku mereka dengan meningkatnya usia
dan bila kesenjangan antara pengetahuan moral dan moral berlaku dan makin tidak
serius dengan berlalunya waktu .
Krteria
kedua, yang harus dilakukan dalam mengefaluasi disiplin ialah pengaruh pada
sikap anak terhadap mereka yang berwenang dan disiplin yang diterimanya. Anak
peka terhadap sikap adil orang tua, guru dan orang lain yang berwenang. Bila
mereka menganggap perlakuan tidak bersikap musuhan dan merasa diperlakukan
dengan sewenang-wenang.
Keluhan
mereka penting dibandingkan dengan cara anak untuk berusaha memenuhi harapan
sosial. Reaksi yang merugikan akibat perasaan diprlakukan dengan tidak adil
paling sering terjadi tatkala mereka di hargai melakukan hal yang boleh
dilakukan teman sebaya.
Kerteria
ketiga dalam mengefaluasi pengaruh disiplin dalam kepribadian anak. Bila anak
merasa di batasi atau atau dihukum secara tidak adil dan bila mereka merasa
bahwa usaha mereka untuk mentaati peraturan tidak tidak dihargai karena mereka
jarang mendapat pujian atau penghargaan lain. Anak yakin bahwa mereka korban
perlakuan yang tidak adil hal ini sering berakibat gangguan kepribadian yang
serius.
11. Peraturan
Pokok
pertama disiplin adalah peraturan. Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk
tingkah laku. Pola tersebut ditetapkan oarang tua, guru, atau teman bermain
yang bertujuan untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui
dalam situasi tertentu. Dalam hal peraturan sekolah misalnya, peraturan ini
mengatakan pada anak apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan sewaktu
berada di dalam kelas, koridor sekolah, ruang makan sekolah, kamar kecil, dll.
Demikian
juga, peraturan di rumah mengajarkan anak apa yang harus dan apa yang boleh
dilakukan di rumah atau dalam hubungan dengan keluarga yaitu tidak boleh
mengambil milik saudara, tidak boleh membantah nasihat orang tua dan tidak
boleh lalai melakukan bagian tugas rumah tangga mereka.
a. Fungsi Peraturan
Peraturan mempunyai 2 fungsi yang
sangat penting dalam membantu anak menjadi makhluk bermoral.
1) Pertama, peraturan mempunyai nilai
pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui
anggota kelompok tersebut. Misalnya, anak belajar dari peraturan tentang
memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa menyerahkan tugas
yang dibuatnya sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima di
sekolah untuk menilai prestasinya.
2) Kedua, peraturan
membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila merupakan peraturan
keluarga bahwa tidak seoarang pun boleh mengambil mainan atau milik saudaranya
tanpa pengetahuan dan izin si pemilik, anak segera belajar bahwa hal ini
dianggap perilaku yang tidak diterima bila melakukan tindakan terlarang ini.
Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi penting di atas,
peraturan itu harus dimengerti, diingat dan diterima oleh si anak.
b. Jumlah Peraturan
Banyaknya
peraturan yang ada sebagai pedoman perilaku anak akan bervariasi menurut
situasi, usia anak, sikap orang yang mendisiplin, cara teknik menanamkan
disiplin dan banyak faktor lain. Umumnya terdapat lebih banyak paraturan dalam
situasi sekolah dibandingkan dengan di rumah atau tempat bermain. Umumnya lebih
banyak peraturan diperlukan bagi anak kecil daripada bagi anak besar. Menjelang
masa remaja, anak dianggap telah belajar apa yang diharapkan kelompok sosial
dari mereka, oleh sebab itu peraturan sebagai pedoman perilaku tidak lagi
diperlukan. Akan tetapi, karena banyak anak, seperti juga anak remaja dan orang
dewasa, kemungkinan lekas tergelincir ke dalam perilaku yang tidak diinginkan
jika tidak ada peraturan, peraturan tetap berfungsi sebagai alat pengekang
perilaku yang tidak diinginkan, yaitu fungsi pokok kedua dari peraturan.
c. Evaluasi Peraturan
Peraturan
bertindak sebagai dasar konsep moral dan konsep moral sebaliknya bertindak
sebagai dasar kode moral. Dari peraturan anak belajar apa yang dianggap salah
dan benar oleh kelompok sosial. Pertama pengetahuan ini berfungsi
sebagai dasar konsep moral spesifik yang berkaitan dengan perilaku tertentu di
rumah, sekolah atau kelompok bermain. Seiring dengan peningkatan kemampuan
kecerdasan anak, mereka mulai melihat unsur serupa dalam berbagai konsep dan
konsep ini dihubung-hubungkan dan menjadi konsep moral umum atau nilai moral.
Dari konsep moral umum atau nilai moral anak mengembangkan kode moral, mencuri
dari orang lain dan berbohong merupakan perilaku yang dilarang oleh kode moral
mereka.
12. Hukuman
Pokok
kedua disiplin ialah hukuman. Hukuman berasal dari kata kerja latin, punier dan
berarti menjatuhkan hukuman pada seseorang karena suatu kesalahan, perlawanan
atau pelanggaran sebagai ganjaran atau pembalasan.
a. Fungsi
Hukuman
Hukuman
mempunyai 3 peran penting dalam perkembangan si anak. Fungsi pertama ialah
menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan
oleh masyarakat. Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik.
Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu
benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan
yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakkan yang
diperbolehkan. Dan fungsi ketiga dari hukuman ialah memberi motivasi
untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.
b. Jenis
Hukuman
Di masa
lampau, hukuman oleh kebanyakan orang diartikan sebagai hukuman badan, yaitu
menimbulkan rasa sakit dengan menempeleng, memukul, dan memecut. Ini dianggap
sebagai satu-satunya cara yang efektif untuk mencegah terulangnya
perilaku anak yang salah.
Pada era
pasca-Perang Dunia II, bandul lonceng bergerak ke arah sebaliknya, orang tua
dan guru di Amerika Serikat menginjak apa yang acapkali disebut “era
permisivitas” atau “spockism,” suatu era yang mencapai puncaknya pada tahun
50-an dan 60-an . Selama periode ini, bentuk hukuman yang lain sangat populer
di mana-mana. Bentuk-bentuk ini antara lain mengisolasi anank dari kelompok
sosial bila mereka berperilaku buruk, melarang anak menikmati kesenangan
tertentu, misalnya menonton TV yang disukai, menakuti anak, mempermalukan,
mengabaikan, atau mengancam bahwa mereka akan kehilangan kasih orang tua,
membandingkan secara negatif dengan saudara atau orang lain, mengomel dan
berulang-ulang mengungkit-ungkit pelanggaran anak.
Selama tahun 70-an, dengan
meningkatnya kenakalan remaja, hukuman badan disukai lagi, walaupun dalam
bentuk ringan dari sebelumnya.
c. Evaluasi
Hukuman
Dalam
mengevaluasi bentuk hukuman, ada 2 kriteria yang digunakan. Pertama, apakah
hukuman tersebut sesuai ditinjau dari sudut perkembangan? Apakah anak itu
mengerti mengapa hukuman itu diberikan? Ataukah dia mengingat kecerdasannya,
belum cukup matang untuk melihat hubungan antara hukuman dan perilaku salah
yang dihukum? Dengan meningkatnya usia, mereka secara bertahap membuat
penilaian yang lebih matang terhadap hukuman yang mereka terima adalah akibat
perbuatan mereka sendiri. Kedua, apakah hukuman itu memenuhi
ketiga tujuan disiplin yang disebut diatas: mendidik, menghalangi, dan memberi
motivasi. Bertentangan dengan pendapat umum, hukuman badan merupakan salah satu
bentuk hukuman yang paling tidak memuaskan karena anak jarang mengaitkan
hukuman dengan tindakan yang menyebabkan dirinya dihukum. Karena pengaruh
psikologis hukuman badan yang potensial membahayakan, kini disadari bahwa
pemakaiannya harus dibatasi, dan sebaiknya tidak lagi digunakan setelah anak
mampu mengerti alasan adanya peraturan-peraturan. Tetapi ada 3 situasi dimana
hukuman badan berguna. Pertama, bila tidak ada cara lain untuk
mengkomunikasikan larangan mengenai sesuatu yang mungkin berbahaya bagi diri
anak atau orang lain. Kedua, bila hukuman dapat diberikan pada saat
tindakan terlarang sedang berlangsung sehingga anak akan menghubungkan keduanya
dan mengerti mengapa tindakan itu dilarang.Ketiga, bila beratnya
hukuman badan disesuiakan dengan beratnya kesalahan.
Bentuk
hukuman yang paling efektif mempunyai hubungan langsung dengan
tindakan. Studi tentang pengaruh hukuman telah menetapkan sejumlah
unsur yang pokok untuk hukuman yang baik, antara lain :
1) Hukuman harus
disesuaikan dengan pelanggaran dan harus mengikuti pelanggaran sedini mungkin,
sehingga anak akan mengasosiasikan keduanya. Bila seorang anak membuang makanan
ke lantai karena sedang marah-marah, anak itu harus langsung membersihkannya.
2) Hukuman yang
diberikan harus konsisten sehingga anak itu mengetahui bahwa kapan saja suatu
paraturan dilanggar hukuman itu tidak dapat dihindarkan.
3) Apapun bentuk hukuman
yang diberikan sifatnya harus impersonal sehingga anak itu tidak akan
menginterpretasikan sebagai kejahatan si pemberi hukuman.
4) Hukuman harus
konstruktif sehingga memberi motivasi .
5) Suatu penjelasan
mengenai alasan mengapa hukuman diberikan harus menyertai hukuman agar anak itu
akan melihatnya sebagai adil dan benar.
6) Hukuman harus
mengarah ke pembentukan hati nurani untuk menjamin pengendalian perilaku dari
dalam di masa mendatang.
7) Hukuman tidak
boleh membuat anak merasa terhina.
13. Penghargaan
Pokok
ketiga dari disiplin ialah penggunaan penghargaan. Istilah “penghargaan”
berabti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak
perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan
di punggung.
a. Fungsi
Penghargaan
Penghargaan mempunyai 3 peranan
penting dalam mengajar anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui
masyarakat :
1) Penghargaan
mempunyai peranan mendidik
2) Penghargaan
berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara
sosial.
3) Penghargaan
berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya
penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku ini.
Peran penghargaan pertama-tama
positif yaitu memotivasi anak untuk melakukan apa yang dianggap sesuai.
Sedangkan peran hukuman pertama-tama negatif yaitu menghalangi anak melakukan
perbuatan yang tidak disetujui secara sosial.
b. Jenis
Penghargaan
Apapun
bentuk penghargaan yang digunakan, penghargaan itu harus sesuai dengan
perkembangan anak. Bila tidak, ia akan kehilangan efektivitasnya. Sebagai
contoh, penggunaan komunikasi nonverbal untuk bentuk penghargaan terhadap anak
kecil, dan sebaliknya penggunaan kata-kata pujian untuk bentuk penghargaan
terhadap anak yng lebih besar karena bentuk komunikasi nonverbal kurang
efektif.
Mungkin penghargaan yang paling
sederhana adalah :
1) Penerimaan
sosial,
2) Hadiah,
diberikan untuk perilaku yang baik,
3) Perlakuan yang
istimewa.
Bagi anak yang lebih kecil,
penghargaan yang lebih nyata, dalam bentuk hadiah, biasanya lebih baik,
dimengerti dibandingkan perilaku istimewa.
c. Evaluasi
Penghargaan
Dengan
meningkatnya usia, penghargaan bertindak sebagai sumber motivasi yang kuat bagi
anak untuk melanjutkan usahanya untuk berperilaku sesuai dengan harapan. Bila
usahanya tidak diperhatikan atau tidak dihargai, mereka mempunyai sedikit
motivasi dan motivasi yang masih dimilikinya seringkali berkurang akibat kritik
dan omelan tentang kesalahan mereka.
Sepanjang
masa kanak-kanak, penghargaan mempunyai nilai edukatif yang penting. Imbalan
mengatakan pada mereka bahwa perilaku mereka sesuai dengan harapan sosial dan
memotivasi mereka untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Jadi
penghargaan merupakan agen pendorong untuk perilaku yang baik.
14. Konsistensi
Pokok ke-4
disiplin ialah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau
stabilitas., artinya ialah suatu kecenderungan menuju kesamaan. Konsistensi
memungkinkan orang menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah sambil pada
waktu yang bersamaan, cukup mempertahankan ragaman sehingga anak-anak tidak
akan bingung mengenai apa yang diharapakan dari mereka.
Konsistensi
harus menjadi ciri dari semua aspek disiplin. Harus ada konsistensi dalam
peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalm cara
peraturan ini diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada
mereka yang tidak menyesuaikan pada standar, dan dalam penghargaan bagi mereka
yang menyesuaikan.
a. Fungsi
Konsisten
Konsistensi dalam disiplin mempunyai
3 peran yang penting, yaitu :
1) Konsistensi
mempunyai nilai mendidik yang besar,
2) Konsistensi
mempunyai nilai motivasi yang kuat,
3) Konsistensi
mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.
b. Evaluasi
Konsistensi
Peranan
konsistensi yang penting dalam disiplin telah ditegaskan dalam studi-studi
mengenai pengaruh kurangnya konsistensi. Hal ini akan dibahas secara terinci
dalam pasal bab ini yang membicarakan bahaya-bahaya dalam perkembangan moral.
Tetapi dari segi positif, konsistensi mempunyai beberapa nilai penting. Ia
memacu proses belajar dan dengan itu membantu anak belajar peraturan dan
menggabungkan peraturan dan menggabungkan peraturan tersebut kedalam suatu kode
moral. Hasilnya, anak-anak yang terus diberi pendidikan moral yang konsisten
cenderung secara keseluruhan menjadi lebih matang secara moral dibandingkan
teman sebaya mereka yang mendapat pendidikan moral yang tidak konsisten.
Anak yang
mendapat disiplin yang konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk
berperilaku menurut standar yang disetujui secara social daripada mereka yang
didisiplin dengan tidak konsisten. Untuk menekankan betapa pentingnya
konsistensi untuk perkembangan moral anak, spock telah menerangkan peran orang
tua dalam memberikan disiplin yang konsisten bagi anak-anaknya. Ia mengatakan:
“agar sitem berjalan baik, orang tua harus mempunyai suatu cita-cita tertentu.
Mereka harus mengetahui apa yang diharapkan mereka dari anak mereka dan
mengkomunikasikannya pada mereka secara jelas.”
15. Bahaya
Dalam Perkembangan Moral
Setiap
tahun, laporan dari departemen kehakiman menunjukan bahwa
jumlah kenakalan remaja dan kriminalitas dewasa terus meningkat, informasi ini
menunjukan bahwa terdapat suatu hal yang sangat memperhatikan dalam
perkembangan moral anak dan keluarga .
Penyebab kenakalan keluarga dan
kriminalitas remaja dapat didiagnosis, setiap gejala untuk melakukan usaha ini
akan gagal oleh karena itu berbagai usaha di lakukan para kriminolog,
sosiologi, psikolog, dan lainya untuk melawan gejala ini.
Sejumlah
perkiraan tentang penyebaran telah di kemukaakan dengan harapan memastikan
siapa yg harus dipersalahkan. Orang lain menyalahkan tentang
kurangnya pendidikan keagamaan di rumah dan di sekolah dan berkurangnya
orang yang pergi ke gereja. Orang lain lagi menyalahkan keretakan
didalam keluarga dan meningkatnya penceraian, ibu yang bekerja dan keluarga dengan orang tua tunggal.
Mungkin
perkiran yang pasti dapat diterima mengenai penyebab kemerosotan moral seperti terbukti oleh
peningkatan berbagai bentuk kenakalan dan kriminalitas,
telah diputuskan pada sikap permisif atau disebut dengan spockisme. Dalam
halaman berikutnya suatu usaha akan dilakukan untuk membahas bahaya umum dan perkembangan
moral anak zaman sekarang, dengan harapan member titik terang dalam masalah
sosial yang penting ini, akan jelas bahwa penyebabnya dan jika akan dilakukan
pembaikan maka usaha mereka harus diputuskan kepada perbaikan metode menanamkan
disiplin .
16. Keyakinan
Bahwa Disiplin Itu Keyakinan Dan Sinonim
Banyak
orang dewasa yakin bahwa disiplin hukuman sinonom ,akibatnya mereka yakin bahwa
seorang pendisiplin yang baik ialah orang yang menggunakan hukum untuk
menghalangi perilaku yang salah atau untuk mngajar anak tentang apa yang
diterima dan yang tidak diterima oleh kelompok sosialnya.
Terdapat
dua kekeliruan dalam keyakinan tersebut, pertama studi mengenai pengaruh
hukuman badan seperti dikemukakan terlebih dahulu bahwa ahli mendukung
perkembangan perilaku yang disetujui. Hukum badan merangsang perkembangan sikap
yang merugikan pada anak sehingga tidak terjadi perbaikan dalam perilaku moral,
melainkan peninggkatan immoralitas.
Kekeliruan
kedua, ialah keyakinan bahwa hukum dapat memenuhi semua fungsi disiplin. Bila
anak tidak menggetahui yang benar dan yang salah, bila usaha mereka tidak
memenuhi harapan sosial tidak dihargai dan bila mereka menggembangkan sikap
yang negatif terhadap yang berwenang karena mereka menggangap mereka
sebagai orang yang suka menghukum, maka mereka akan mempunyai sedikit keinginan
untuk berusaha berperilaku sesuai dengan harapan.
17. Kesulitan
dalam belajar konsep moral
Belajar
meresapi nilai moral kelompok sosial membutuhkan waktu, seperti halnya belajar
konsep moral tertentu.konsep belajar ini dipersulit oleh sejumlah
faktor.
Sewaktu mempelajari nilai moral,anak itu mungkin
merasa bingung tentang apa yang diharapkan kelompok sosial.
18. Ketidak
konsistenan dalam disiplin
Hanya jika
disiplin itu konsisten,anak akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan siapa
yang harus dipatuhinya. Terdapat banyak ketidak konsistenan dalam
mendisiplinkan anak. Pada orang tua dan guru mungkin tidak mengetahui benar apa
yang mereka inginkan dari anak itu atau tidak tau betul apa yang harus mereka
lakukan agar anak berperilaku yang mereka harapkan. Sikap mereka bervariasi antara kelunakan yang sudah
hampir sama dengan membuang semua pengendalian dengan hingga standar yang
begitu keras hingga anak hampir tidak bisa bergerak lagi. Fluktuasi
dalam hubungan orang tua dan anak yang disebabkan perubahan dalam sikap anak terhadap
orang tua dan sikap orang tua terhadap anak merupakan penyebab umum
ketidakkonsistenan disiplin .
Mungkin
akibat ketidakkonsistenan yang paling umum adalah perbedaan pendapat antara
orang tua dan disiplin. Keras atau lemahnya disiplin itu sendiri
tidaklah demikian membahayakan anak seperti hanya
ketidakkonsistenan. Bila kritik tidak dilakukan dihadapan anak, hal itu akan
membahayakan secara tidak langsung dengan membuat orang tua yang dikritik
merasa tidak aman secara pendisiplin
19. Suapan
Suapan
sebagai mana di terangkan terlebih dahulu merupakan sesuatu yang digunakn untuk
membujuk atau mempengaruhi suatu tindakan dan penghargaan merupakan sesuatu
yang diberikan sebagai balasan untuk suatu tindakan .dalam suapan, anak
dijadikan suatu benda material atau suatu hak istimewah bila mereka mau berperilaku sesuai
dengan orang tua guru atau orang dewasa lainnya.anak belajar
mengharapkan penghargaan bila mana saja mereka berperilaku sesuai dengan
harapan masyarakat. Kemudian bila penghargaannya tidak kunjung datang motivasi mereka untuk bersikap dengan
cara di setujui dimasa mendatang akan melemah .
20. Kesenjangan
antara konsep moral dan berperilaku moral
Di antara orang
dewasa dan anak” terdapat banyak kesenjangan antara kode moral seseorang dan
perilaku moral. Tetapi kebanyakan orang konsisten dalam menghubungkan keyakinan
moral dan perilaku. Menjadi semam moral dan kehormatan bagi mereka untuk memenuhi standar bila
mereka tidak berbuat demikian mereka bersalah, dan bila tertangkap basah ia
merasa malu. Studi mengenai kesenjangan antara pengetahuan moral dan perilaku moral dimasa
kanak-kanak telah menggungkapkan tiga kesenjangan ini antara pengetahuan moral
dan perilaku moral yang membahayakan penyesuaian perilaku yang baik.
Pengertian
Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur
Pengertian
Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur –
Jujur adalah suatu sifat manusia yang sangat sulit untuk diterapkan. Sifat
jujur yang benar-benar jujur seringkali hanya dapat diterapakan oleh orang yang
sudah terlatih dari kecil untuk menegakkan sifat jujur.
Untuk
itu pada pembahasan kali ini kami akan mengulas tentang Kejujuran. Yang
mencakup pengertian, karakteristik dan macam-macam sifat jujur dalam Islam
dengan lengkap dan mudah dipahami. Untuk lebih detailnya silakan simak ulasan Studinews.co.id dibawah ini
dengan seksama.
Pengertian
Kejujuran, Karakteristik dan Macam Sifat Jujur
Mari
kita bahas mulai dari pengertian kejujuran terlebih dahulu.
Pengertian
Kejujuran
Jika diatas sudah dibahas tentang definisi jujur
maka sekarang adalah penjelasan tentang kejujuran. Pengertian Kejujuran adalah
suatu sikap seseorang yang biasanya diungkapkan dengan ucapan ataupun perbuatan
dengan spontan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya tanpa ada rekayasa dari
yagn diucapkan dan dilakukannya.
Pengertian
Kejujuran Menurut Para Ahli
Berikut
adalah beberapa pengertian kejujuran dari para ahli terkemuka.
1.
Kesuma, dkk (2012: 16)
Kesuma, dkk mendefinisikan jujur adalah suatu
keputusan seseorang untuk mengungkapkan perasaannya, kata-katanya atau
perbuatannya bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara berbohong
atau meniru orang lain untuk keuntungan dirinya.
2.
Mustari (2011: 13-15)
Mustari mendefinisikan jujur adalah suatu perilaku
yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap dirinya
ataupun pihak lain.
3.
Zuriah (2008: 49)
Zuriah mendefinisikan jujur adalah nilai dan
prinsip kejujuran juga dapat ditanamkan pada diri siswa di jenjang pendidikan
dasar melalui kegiatan mengoreksi hasil ulangan secara silang dalam kelas.
Karakterisktik
Kejujuran
Kesuma, dkk
(2012: 17) menyatakan orang yang mempunyai karakter jujur memiliki ciri-ciri
dengan perbuatan sebagai berikut:
Apabila
bertekad (inisiasi keputusan) untuk menjalankan sesuatu, tekadnya adalah
kebenaran dan kemaslahatan.
Apabila
berkata tidak berbohong (benar sesuai adanya)
Apabila
terdapat kesamaan antara yang dikatakan hatinya dengan apa yang dilakukannya.
Individu
yang mempunyai karakter jujur akan disegani oleh banyak orang dalam segala hal
seperti dalam persahabatan, mitra kerja, dan lain sebagainya. Karakter jujur
ialah salah satu karakters penting yang
dapat membuat seseorang cinta kebenaran dan mau mengambil resiko sebesar apapun
dari kebenaran yang dilakukannya
Kesimpulan dan Saran
Jadi untuk boleh menjadi seorang Pemenang yang sesungguhnya kita perlu
memahami dengan benar semua hal-hal yang kami sudah lampirkan dalam makalah
ini.Memiliki sikap yang baik,pantang menyerah,bersikap jujur dan selalu
berfikir positif juga menjadi suatu penentu untuk kita boleh menjadi pribadi
pemenang .
Dalam kehidupan kita memang sudah pasti akan mengalami dan menghadapi
banyak masalah dan rintang tapi itu bukan jadi alasan untuk kita menyerah dan
jatuh,justru kita harus menjadikan semua itu menjadi batu loncatan untuk kita
boleh lahir menjadi seoramng pemenang setelah mampu melewati banyak rintangan
dalam hidup kita .Semoga setelah memahami dengan benar tentang semua yang kami
sudah cantumkan dalam makalah ini kita Mahasiswa dan Muda-mudi akan menjadi
Pemenang yang sesungguhnya .
DAFTAR PUSTAKA
American
Encylopedia, Motivasi merupakan
kecenderungan (sifat pertentangan) dalam diri
Hamalik (1992;
173), Media Pendidikan Bandung:
Penerbit Alumni
Makmum (2004), Psikilogi
Kependidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Mulyasa. E. (2003; 112), Kurikulum
Berbasis Kompetens; Konsep, Karakteristik dan implementasi, (Bandung: PT.
Remaja Rosadakarya
Sardiman (2007;73),
Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar, Bandung: Rajawali Pers
Uno. Hamzah B.
2006, Orientasi Baru dalam Psikologi
Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara)
B, Weiner (1990), History Of Motivational Research In
Education. Journal Of Education Psyhology
B, Weiner (1990), History Of Motivational Research In
Education. Journal Of Education Psyhology








Tidak ada komentar:
Posting Komentar